Baduy 14/15 Mei 2022
Dalam hidup banyak keseimbangan terjadi begitu saja, tanpa harus kita usahakan, kondisi seimbang sudah dibuat oleh Tuhan. Lalu kita ngapain? enjoy aja. Nikmatin semua yang Tuhan beri ke kita. Seperti 3 hari yang lalu, sepertinya aku harus jalan-jalan, dan Baduy jadi destinasinya. Jam 7.30 WIB pagi, tanggal 14 Mei itu, aku sudah cao’ dari rumah. Pesan go-jek. Datang. Kurang lebih 15 menit kemudian Aku sudah di Stasiun Kereta Api Karangantu Serang. Udah gatal tangan, ingin bikin status. Entah di WA, FB atau IG tapi, satupun nggak aku buat status. Aku ingin nikmatin perjalanan ini. Sebuah perjalanan menuju orang-orang yang ‘mewah’ hati dan jiwanya. Dalam gambaran fikirku, sudah tertanam sepertinya kemarin itu, sebelum OTW ke baduy, dalam otakku, bahwa orang-orang baduy ini, ‘kaya’ banget hati dan jiwa mereka. Entah mengapa, leluhur-leluhur mereka mengasingkan diri sedemikian rupa, jauh dari peradaban, mencari sesuatu hal yang hakiki mungkin sifatnya. Kedamaian, ketenangan, jauh dari hiruk pikuk kepenatan kehidupan kita yang ramai. Entahlah, aku nggak tahu. Masih banyak sepertinya hal yang belum ku ketahui dari suku Baduy di Cibeo Lebak Banten ini.
Pas jam 9.13 WIB saya tiba di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Open trip kurang lebih 22 orang. Kami sudah bergabung di grup WA. Satu persatu peserta Open trip konfirmasi kedatangan ke Om Morgan, guide kami saat trip ini. Ibu-ibu, cewe-cewe, putri-putri, berangkat dari Stasiun Rangkas dalam satu mobil elf. Kami, bapak-bapak, cowo-cowo, 7 orang dalam satu angkot. Perjalanan dimulai kurleb jam 9.45 menuju terminal Ciboleger. Ternyata ramai saat itu, mungkin karena weekend yang tambah satu hari, jadi banyak wisatawan yang berlibur kesini.
Indah sekali kehidupan suku baduy ini rumah-rumah bilik kayu panggung tersusun rapih.. suasana alami terasa sekali menyelimuti hidup mereka. Damai, tentram, sungai-sungai yang airnya bersih jernih ada disekitar mereka. Aku jadi pengen nyebur di sungai itu, yang akhirnya kesampaian juga mandi di sungai, setelah sore, hampir jam 17.30, sesampainya di baduy dalam di Cibeo, dibelakang perkampungan mereka. Segar badan, setelah kurang lebih 5 jam perjalanan menuju kampung baduy dalam ini. Alam yang indah terbentang, hutan hujan tropis masih alami disini..keringat keluar.. segar ke badan dan otak.
Jalan-jalan kali ini, aku sepertinya berada dalam kaum milenial. seperti Bale, Hendi, Kausar, Dinda Gita dll.. tapi kocak mereka itu.. berkali-kali aku pengen ketawa lepas..mendengar ungkapan-ungkapan mereka di perjalanan yang lumayan jauh melelahkan ini. Seperti yang kuingat ada kalimat..”kalo gw punya 9 nyawa, kayanya setengahnya udah ilang..” saking capenya mungkin udah mau mati kali ya hehe paece.
“patah kaki.. patah tangan” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Mungkin kaum milenial lebih mudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan.. aku sih pengen ketawa, tapi dalam hati aja walau kadang akhirnya lepas juga…ngga ketahan ketawa..
Lalu akhirnya aku juga becanda dikit-dikit. Seorang ibu anggota trip, paruh baya mengira saya teroris yang mau sembunyi di baduy.. aku ketawa lepas aja..bha ha ha.. tampilan wajahku sepertinya yang belum cukur jenggot dan jambangku …lagi belum sempet aja.. pas sepertinya kalo untuk hari jum’atnya tanggal 13 mei kemarin itu…aku diminta isi khutbah jum’at di perum puri cempaka serang. Khutbah jum’at pertama kalinya seumur hidup aku..
Saya menikmati cara suku baduy dalam menjaga alam yang sudah Tuhan beri, meraka patuh banget menurutku kepada Tuhan. Atas alam yang mereka terima..alam yang segar indah..pegunungan hijau, menjulang pohon tinggi, air sungai yang bersih, bening, kehidupan yang sederhana..manunggal mereka dengan alam raya, jauh dari kebisingan hidup duniawi, yang sepertinya tak pernah puas mengejar materi belaka.
Aku sempat bertanya ke Kang Jali, kemungkinan menginap dan tinggal beberapa hari di suku baduy dalam ini, tapi ngga bisa. Cukup satu malam aja, peraturannya begitu untuk tamu, kalo ingin tambah menginap harus di luar pemukiman mereka. Teguh mereka dengan aturan yang turun-temurun dijalankan.
Team kami pulang keesokan harinya, sekitar jam 08.00 sudah ijin keluar dari perkampungan merka, jalan terus sampe kurleb jam 13 siang sampai Cikuem, Desa Nagayati Leuwidamar. Luar biasa anak-anak suku baduy dalam, fisik mereka kuat. Jarta, Naya, Jahira, anak-anak lelaki suku baduy dalam, seusia kurang lebih 10 tahunan pulang pergi menemani dan membantu kami. Kang Jali, Kang Herman, Kang Sanip dan beberapa rekan meraka yang tak saya ketahui namanya sangat membantu perjalanan ini..hatur nuhun pisan akang-akang. Senang bisa bertemu.
Saya cukup kaget, ketika tersadar dan melihat perkampungan mereka di goggle maps landscap, membentuk jejak telapak kaki kanan. Ketika itu di Ciboleger di warung makan im3, Kang Jali menunjukan lokasi perkampungan baduy dalam, tempat tinggal mereka. Lokasi baduy dalam tempat yang kami tuju dalam perjalanan kali ini.
Agak kaget juga, Kang Jali bisa menunjukan lokasi tempat tinggal mereka di goggle maps. Melek teknologi, ternyata mereka. Jarta, anaknya Kang Jali, diam saja, ketika saya ngobrol sama ayahnya. Wajahnya lembut penuh senyum. Jarta sering diajak berfoto oleh kawan-kawan di trip kali ini. Imut wajahnya. Khas anak kecil baduy dalam.
Naya lebih tua sedikit diatas Jarta, sekitar 10 tahunan. Aktif juga anaknya. Ngga mau diem. Aku sedikit memperhatikan tingkah laku Naya didepan rumahnya. Tempat aku Morgan, Bale, Rudy, Haerul, Pak Mul, Hendi dan Kausar menginap malam itu. Dibaduy dalam di Cibeo. Naya terlihat seperti sedang mempraktekan gerakan ‘kamehame’ dikomik kungfu boy yang pernah kubaca.
Apakah ia lihat tv? Sepertinya ngga pernah. Apakah ia lihat youtub? Bisa jadi, tapi aku ragu melihat gerakan kamehame di yutub. Kesimpulan sementara aku, ia melihat orang-orang dewasa di baduy dalam mempraktekan olah batin dan raga seperti itu..entahlah...mereka, penghuni baduy dalam masih diselimuti misteri bagi saya..
Rekan team kami, Bale, ditandu akibat terpeleset ketika keluar dari baduy. Bale mengingatkan saya pada Panglima Besar Jendral Sudirman. Yang bergerilya melawan penjajah belanda, masuk keluar hutan dengan ditandu oleh pasukannya. Sudirman adalah jendral yang taat. Diceriterakan dalam biografinya, ia adalah serorang yang taat pada ajaran agamanya. Banyak cerita ajaib ketika beliau bergerilya di hutan-hutan. Salah satu yang kuketahui ialah ia lolos begitu saja, padahal ia sudah berhadap-hadapan dengan penjajah yang mencarinya. Penjajah meragukan bahwa ia Sudirman.
Tidur malam di rumah Naya yang sederhana namun kokoh, saya menyukainya, rumah yang kurang lebih berukuran 10 x 10 meter. Rumah bilik bambu panggung, terasnya adalah susunan bambu dengan kurang lebih 3 undakan kayu tangga untuk naik. Hanya terdapat satu ruangan yang mungkin mengambil seperempat luas rumah itu. Tempat ibunya Naya memasak untuk kami. Hangat ruangan itu. Saya berkunjung juga ke rumah Kang Jali, ternyata tak jauh berbeda bentuk rumahnya dengan rumah Naya. Saya sempet bermimpi di rumah Naya itu, rumah itu blong ke sungai, terbuka luas kearah sungai. Saya menafsirkan mimpi itu seperti ini..”sepertinya saya harus keluar rumah untuk pipis malam ini” tapi saya tahan-tahan, takut digigit ular. Gelap gulita bro. Entah kenapa saya tahan-tahan
Sebenarnya api disumbu minyak itu cukup untuk menerangi rumah Naya ini, ditambah tidur saya di sleeping bag ini, cukup hangat juga. Padahal naik Gunung Salak, Gunung Slamet dan Gunung Semeru dimalam hari ok ok aja. Entah kenapa, abis mimpi itu, sulit memejamkan mata lagi. Samar-samar terdengar ibunya Naya menyiapkan masakan. Sepertinya udah mulai fajar fikirku. Perlahan ngantuk lagi, tidur pulas sampe pagi. Udah terang matahari aku keluar, pee di sungai belakang rumah Naya.
Aku beli dua botol madu kecil titipan ibu, beli gantungan kunci baduy buat anak-anak.
Mereka sudah hidup ‘tawaazun’ ya Git.. hehe
www.tedigumelaran.blogspot.com