Minggu, 11 Oktober 2026

Jurnal 11 oktober 2026




 Nikmat yang Sering Luput dari Syukur

Catang, 11 Oktober 2026 — Pukul 19.00


Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, bahkan melalui hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian. Hari ini aku kembali merasakan betapa banyak kebaikan yang telah Allah hamparkan dalam perjalanan hidupku. Pagi dimulai dengan bangun tidur dan menunaikan salat Subuh di masjid. Ada ketenangan tersendiri ketika memulai hari dengan bersujud kepada-Nya, seolah-olah segala urusan yang menanti di hadapan telah kuserahkan lebih dahulu kepada Sang Pemilik kehidupan. Setelah itu, aku berangkat naik kereta menuju Catang. Dari sana, aku dibonceng Pak Caram menuju Kebon Cau, Pamarayan, untuk mendirikan kelompok perikanan yang baru. Di desa itu, aku bersilaturahmi dengan Pak Yogi, Pak Nadi, Pak Opi, Pak Ely, dan beberapa orang lainnya. Pertemuan itu bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan juga perjumpaan antarmanusia yang menyimpan kehangatan. Kami berbincang, bertukar cerita, dan makan siang bersama. Hidangan yang tersaji begitu sederhana: telur dadar, ikan asin, tumis tahu, kentang, dan beberapa lauk lainnya. Namun, di hadapan rasa lapar dan kebersamaan yang tulus, makanan sederhana itu terasa istimewa. Betapa sering manusia mengejar kenikmatan yang jauh, padahal Allah telah menyediakan begitu banyak kebahagiaan di dekatnya. Siang itu aku belajar kembali bahwa nikmat tidak selalu datang dalam kemewahan. Terkadang ia hadir melalui sepiring nasi, lauk sederhana, keramahan tuan rumah, dan kesempatan untuk bekerja sambil menjalin silaturahmi. Alhamdulillah, hari itu aku diberi kesehatan, perjalanan yang lancar, pekerjaan yang bermanfaat, dan pertemuan dengan orang-orang baik.


Setelah urusan di Kebon Cau selesai, aku kembali ke Catang. Aku beristirahat di musala stasiun sambil menunggu waktu berlalu. Tidak ada firasat apa-apa ketika itu. Aku hanya ingin merebahkan tubuh sejenak setelah menjalani aktivitas sejak pagi. Akan tetapi, rupanya ada satu perkara kecil yang luput dari perhatianku: kunci sepeda motor terjatuh dari saku jaket. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Baru ketika kereta telah bergerak menuju Serang, kesadaran itu datang seperti pintu yang tiba-tiba terbuka. Tanganku meraba saku, lalu mengulanginya sekali lagi, berharap kunci itu masih berada di tempat semula. Namun, yang kutemukan hanyalah kekosongan. Seketika pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika kunci itu tidak ditemukan? Bagaimana jika ada orang yang mengambilnya? Bagaimana jika motorku tidak bisa digunakan untuk pulang? Pikiran-pikiran itu datang bertubi-tubi, membentuk kecemasan yang semakin panjang. Aku tahu, persoalannya mungkin tampak sederhana bagi orang lain, tetapi ketika sesuatu yang penting tiba-tiba hilang, pikiran manusia sering kali berlari lebih cepat daripada kenyataan. Aku turun di Stasiun Serang dan berusaha melaporkan kehilangan itu. Sebelumnya, di dalam kereta, aku telah bertanya kepada petugas KAI yang bertugas di gerbong. Namanya Syahrul. Alhamdulillah, ia menanggapi dengan baik dan segera menghubungi pihak Stasiun Catang. Aku pun mengirimkan foto kunci motor sebagai petunjuk. Dalam keadaan seperti itu, perhatian kecil dari seseorang terasa begitu berarti. Di tengah kecemasan yang menguasai pikiran, masih ada orang yang bersedia membantu tanpa banyak bertanya, tanpa membuat persoalan terasa semakin berat. Aku mulai menyadari bahwa di balik setiap kesulitan, Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan manusia yang tidak pernah kita duga sebelumnya.


Alhamdulillah, kabar baik itu akhirnya datang: kunci motorku ditemukan di Stasiun Catang. Lega rasanya mendengar berita tersebut. Sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikiranku dengan berbagai kecemasan ternyata tidak berakhir seburuk yang kubayangkan. Namun, ada satu hal yang harus kuterima: kunci itu tidak dapat dibawa oleh kereta berikutnya ke Serang. Aku harus kembali sendiri ke Catang untuk mengambilnya. Tidak mengapa, pikirku. Setidaknya kunci itu telah ditemukan, dan aku tidak perlu membeli tiket kereta lagi untuk mengurus persoalan tersebut. Terima kasih, KAI, atas bantuan dan pelayanan yang diberikan. Terima kasih, Pak Yogi dan Pak Caram, yang telah menjadi bagian dari perjalanan hari ini. Terima kasih pula kepada Pak Imam, Pak Ghalih, dan semua pihak yang membantu di Stasiun Catang maupun Stasiun Serang. Mungkin bagi mereka, pertolongan itu hanyalah pekerjaan biasa atau kebaikan kecil yang segera terlupakan setelah hari berganti. Namun, bagiku, semua itu adalah bagian dari nikmat Allah yang patut dicatat dalam ingatan. Aku sempat terlalu jauh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Padahal, kenyataan belum tentu seburuk prasangka. Saat kecemasan mulai menguasai diri, aku teringat bahwa hidup ini tidak akan menjadi lebih ringan hanya karena kita terus-menerus mengkhawatirkan segala kemungkinan. Ada perkara yang memang harus diusahakan, ada yang harus diselesaikan dengan ikhtiar, dan ada pula yang pada akhirnya mesti diserahkan kepada Allah. Ketika waktu menunjukkan pukul tiga lewat, aku menunaikan salat Asar di Stasiun Serang. Di tengah kesibukan orang-orang yang datang dan pergi, aku berhenti sejenak untuk menghadap kepada-Nya. Barangkali inilah salah satu pelajaran hari ini: di tengah urusan dunia yang terkadang membuat hati gelisah, manusia selalu memiliki tempat untuk kembali. Aku tidak harus mengetahui seluruh jawaban saat itu juga. Aku hanya perlu berusaha, berdoa, dan belajar menerima apa yang belum dapat kukendalikan.


Di antara perjalanan kereta, kehilangan kunci, dan pertolongan orang-orang baik, pikiranku kemudian sampai pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perkara yang sedang kuhadapi. Aku teringat bahwa belumlah sempurna keselamatan hidup seseorang hanya karena ia terbebas dari kesulitan dunia. Keselamatan yang sesungguhnya adalah ketika kelak Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga. Ah, betapa jauh perjalanan menuju ke sana, dan betapa banyak kekurangan yang masih melekat pada diriku. Aku bukan manusia tanpa kesalahan. Ada ucapan yang mungkin pernah melukai, ada sikap yang mungkin pernah mengecewakan, ada kewajiban yang belum kutunaikan dengan sebaik-baiknya, dan ada kesempatan berbuat baik yang mungkin pernah kulewatkan. Namun, ketika menengok kehidupan hari ini, aku juga melihat begitu banyak orang baik yang Allah tempatkan di sekelilingku. Mereka hadir dalam bentuk yang sederhana: seseorang yang memberikan tumpangan, seseorang yang menerima kedatangan dengan ramah, seseorang yang mengajak makan bersama, seorang petugas yang bersedia menghubungi stasiun lain, dan orang-orang yang membantu tanpa mengharapkan balasan. Jika dunia ini saja telah memberiku begitu banyak kebaikan, bagaimana mungkin aku berputus asa dari rahmat Allah untuk kehidupan akhirat? Tentu saja, aku tidak boleh menjadikan nikmat dunia sebagai jaminan bahwa surga pasti menjadi bagianku. Surga adalah karunia Allah yang harus diharapkan dengan iman, amal saleh, dan rahmat-Nya. Karena itu, aku ingin belajar mensyukuri apa yang telah ada, memperbaiki apa yang masih kurang, dan memohon agar segala kesalahan diampuni oleh-Nya. Aku ingin masuk surga bersama orang-orang yang kucintai, bersama keluarga dan orang-orang terdekat, dalam keadaan Allah meridai kami. Semoga Allah menambahkan nikmat-Nya di dunia, memberkahi setiap langkah yang kujalani, mengampuni dosa-dosaku, dan menganugerahkan kebaikan di akhirat kelak. Ya Allah, jangan biarkan kenikmatan yang Engkau berikan membuatku lalai dari mengingat-Mu. Jadikanlah ia jalan untuk semakin dekat kepada-Mu, bukan alasan untuk merasa bahwa aku telah cukup baik. Aamiin ya Rabbal 'alamin.


Malam telah turun ketika aku kembali berada di Stasiun Catang. Hujan deras mengguyur tempat itu, membasahi tanah dan membuat udara malam terasa berbeda dari siang tadi. Beberapa jam sebelumnya, kawasan Serang terasa sangat panas, seolah matahari enggan beranjak dari puncaknya. Kini, hujan datang membawa suasana yang teduh, sementara aku duduk dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada ketika pertama kali menyadari kunci motorku hilang. Alhamdulillah, kunci motor itu kini sudah berada di saku celanaku. Sesekali aku merabanya, memastikan bahwa benda kecil yang tadi sempat membuat pikiranku berkelana ke mana-mana benar-benar telah kembali ke tempatnya. Betapa lucunya manusia. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa, yang bahkan jarang disadari keberadaannya, mendadak menjadi sangat berharga ketika hilang. Begitu pula dengan banyak nikmat dalam hidup: kesehatan, waktu, pekerjaan, keluarga, persahabatan, dan kesempatan untuk beribadah. Sering kali kita baru benar-benar merasakan nilainya setelah hampir kehilangan atau ketika Allah mengingatkan kita melalui suatu kejadian. Malam ini, di tengah hujan deras di Stasiun Catang, aku tidak ingin menutup hari hanya dengan mengingat kecemasan yang tadi sempat menguasai diri. Aku ingin mengingat pertolongan yang datang, orang-orang yang berbuat baik, makanan sederhana yang kunikmati, salat yang kutunaikan, dan kesempatan untuk pulang dengan hati yang lebih lapang. Terima kasih, ya Allah, untuk hari yang penuh pelajaran ini. Terima kasih karena Engkau mempertemukanku dengan orang-orang baik dan mengajariku bahwa tidak semua kekhawatiran harus diikuti sampai ke ujungnya. Ada saatnya manusia cukup berikhtiar, lalu menyerahkan sisanya kepada-Mu. Semoga esok aku masih diberi kesempatan untuk bangun, bersujud, bekerja, bersilaturahmi, dan melakukan kebaikan sekecil apa pun. Semoga nikmat yang bertambah membuat syukurku bertambah, bukan kelalaianku. Dan semoga perjalanan panjang di dunia ini akhirnya mengantarkanku menuju perjalanan yang paling kuharapkan: pulang kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridai, lalu berkumpul di surga bersama orang-orang yang kucintai. Aamiin. Alhamdulillah. Terima kasih, Tuhan, untuk segala nikmat yang sering kali baru kusadari setelah Engkau mengingatkanku.

Kamis, 18 Desember 2025

Novel "The Mahameru" by Tedi Gumelar

 

jumlah halaman : 390 halaman A5
Penerbit : Harimate Publisher
HSBN  :  978 - 979 - 9055 – 73
pemesanan: klik  s.id/hrWZ9


 

Selasa, 23 September 2025

NOVEL "PERJUANGAN IKAN-IKAN"

 



Bismillah ...
"Teman duduk terbaik adalah buku"
Jual PDF Buku ke-4 saya
a Novel by Tedi Gumelar "PERJUANGAN IKAN-IKAN"
Penerbit: Harimate publisher
Halaman: 76 halaman
ukuran buku: A5.
Harga: Rp. 12.000,-
pesan?--->WA ke 081223898510 (Tedi)
Bayar ke gopay 081223898510 atau BRI 0387 0103 3728 506 a.n Tedi Gumelar 🙏
sudah bayar konfirmasi ke WA ke 081223898510 (Tedi)



Jumat, 15 Agustus 2025

In Memoriam Almarhum Ustad Drs H.E. Syamsudin


 


Catatan, 27 Oktober 2018

Ustadz Syam… Pak Syam.

Pagi itu, saya menyempatkan diri berkunjung ke rumah beliau di kampus IPB Darmaga. Alhamdulillah, saya bisa kembali bersua. Pak Syam—begitu kami biasa memanggilnya—adalah sosok “bapak” bagi para marboth Masjid Al-Hurriyyah. Rasanya selalu ada kebahagiaan setiap kali bertemu beliau. Wajahnya teduh, tutur katanya ringan, dan senyumnya penuh kehangatan.

Sudah dua tahun beliau pensiun dari dosen IPB. Saya datang dengan membawa oleh-oleh seadanya—ah, tak seberapa memang—namun beliau menerimanya dengan gembira. Katanya, beliau memang menyukai risol. Ada rasa haru yang sulit saya ungkapkan: betapa beliau bukan hanya guru, melainkan penuntun jiwa kami. Selalu ada canda, tapi tidak pernah berlebihan; selalu ada nasihat, namun dibungkus dengan kehangatan khas orang Sunda.

Saya teringat masa-masa ketika saya, dan juga para marboth lainnya, kerap merepotkan beliau dengan segudang persoalan. Entah tentang mahasiswa, kegiatan masjid, atau sekadar keluh kesah pribadi. Namun Ustadz Syam selalu menerima dengan lapang dada. Duduk bersama beliau serasa duduk di pangkuan seorang ayah: nyaman, aman, penuh ketulusan.

Beliau membimbing kami dalam kajian pekanan, liqo’, hingga beragam acara di Masjid Al-Hurriyyah. Kehadirannya menjadi cahaya yang menuntun langkah kami. Sejak wafatnya Ustadz Umung Anwar Sanusi di Banjar, saya merasa kehilangan seorang guru. Namun dalam sosok Ustadz Syam, saya kembali menemukannya.

Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi beliau…

Aamiin.


Catatan, 13 Agustus 2025

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Allaahummaghfirlahu, warhamhu, wa ‘afihi, wa’fu ‘anhu…

Pagi ini, selepas Subuh di Masjid Al-Ukhuwah Puri Cempaka Serang, kabar duka itu datang menghantam. Saya baru saja membuka ponsel dan membaca bahwa Ustadz Syam wafat pada Selasa malam, pukul 22.15 WIB, 12 Agustus 2025. Betapa lambat saya mengetahuinya. Hati saya terasa kosong, seakan sebagian cahaya dalam hidup padam bersama kepergian beliau.

Ustadz Syam bukan sekadar guru; beliau adalah bapak bagi kami, para marboth Masjid Al-Hurriyyah IPB. Ingatan saya segera melayang pada kajian tafsir yang beliau isi di aula masjid, saat saya masih menjadi penghuni asrama marboth. Beliau membimbing dengan penuh kesabaran, menuntun kami untuk memahami ayat-ayat Allah dengan hati yang jernih.

Senyum beliau khas: tulus, hangat, dan selalu disertai gurauan ringan yang penuh makna. Saya masih ingat kisah beliau kehilangan hafalan surat Al-Fatihah karena kepalanya terbentur pintu angkot. Namun, dengan izin Allah, hafalan itu pulih kembali. Dari cerita yang sederhana, beliau selalu berhasil menyelipkan hikmah.

Pertemuan terakhir kami terjadi di penghujung tahun 2024. Saat itu saya sedang berkunjung ke rumah mertua di Ciherang, tak jauh dari kediaman beliau di kompleks Masjid Al-Hurriyyah. Waktu itu, seperti biasa, beliau menyapa dengan hangat dan menanyakan kabar keluarga. Bahkan anak-anakku, Hassan dan Ridho, tak luput dari perhatian beliau. Maryam, yang lahir kemudian, pun sempat beliau jumpai.

Ada begitu banyak kenangan bersama beliau—kisah tentang mobil pertamanya yang diberikan oleh seorang murid, tentang nasihat-nasihatnya, bahkan tentang canda kecil yang tak lekang dari ingatan. Suatu kali, saya pernah bertanya:

“Ustadz, dalam Al-Qur’an disebutkan Allah memberi kebaikan yang banyak kepada orang yang bijak. Bagaimana sebenarnya orang bijak itu menurut Allah?”

Beliau menjawab panjang lebar, namun intinya sederhana: orang bijak adalah mereka yang menyesuaikan segala sesuatunya dengan Al-Qur’an. Jawaban itu, sampai kini, masih terpatri di hati saya.


Jejak dalam Kenangan Murid-Muridnya

Rekan-rekan marboth pun banyak menyimpan kenangan serupa.

  • Nur Fauzan masih mengingat pesan beliau saat lulus tahun 2007: “Dimanapun berada, jangan tinggalkan dakwah tarbiyah.”

  • Sobri mengenang saat-saat sederhana duduk di tangga, berbincang santai sambil memijat beliau.

  • Ady Suhendra berkata singkat, “Kebaikan-kebaikan beliau tak terkatakan.”

  • Purwanto menuturkan, “Pasukan marboth paling cepat bergerak kalau sudah dipanggil ke rumah beliau.”

  • Jumadi masih tersenyum mengingat momen makan bersama kiriman kepala sapi, dengan almarhum bercanda ringan di pelataran masjid.

  • Dadan menegaskan, “Kita semua bersaksi bahwa beliau orang baik. Semoga Allah masukkan beliau ke dalam golongan orang-orang yang dirindukan surga-Nya.”

Begitulah, setiap murid menyimpan serpihan cahaya dari sosok Ustadz Syam.


Sebuah Perpisahan

Bagi kami, Ustadz Syam bukan hanya seorang ustadz, tetapi ayah, penuntun, sahabat, dan teladan. Banyak hal yang kami pelajari dari beliau: dari hal besar seperti tafsir Al-Qur’an hingga cerita sederhana penuh gurau.

Kini beliau telah berpulang, kembali ke sisi Allah. Kami merasa kehilangan, namun kami yakin beliau telah memperoleh tempat mulia di sisi-Nya.

Selamat jalan, Ustadz Syam. Semoga Allah menempatkanmu di surga yang luas, di antara para syuhada dan shalihin. Semoga engkau tersenyum dalam balutan rahmat Allah, sebagaimana engkau selalu tersenyum kepada kami semasa hidup.

Fataqabbal minna… Rabbighfir lanaa…




 www.tedigumelaran.blogspot.com

 

Jumat, 01 Agustus 2025

RINDU RUMAH


Sudah hampir seminggu aku tak pulang. Rindu itu mengendap di dada, menggumpal tiap kali pandanganku jatuh pada kunci rumah yang kusimpan di saku jaket. Kunci kecil itu, sepotong logam yang mengantarku pada dunia yang paling nyaman: rumah.

Rumah kecil, tapi lapang di hati. Di dalamnya ada tawa istri, ada riang anak, ada kehangatan yang tak tertandingi oleh tempat mana pun di dunia ini. Pernah dulu aku bermimpi menjelajah, menjejakkan kaki di tanah-tanah asing, menghirup udara dari negeri yang jauh. Aku ingin mendaki gunung-gunung tinggi, melihat matahari terbit dari puncaknya. Aku ingin melangkah di lorong-lorong bersejarah, menapaki jejak para leluhur. Aku ingin menyeberangi laut, bertemu orang-orang dari negeri seberang.

Tapi baru sampai Bandung saja, hatiku sudah berat. Kunci rumah ini seakan berbisik, memanggil-manggilku pulang.

Ah, rumah. Ada kebahagiaan yang tak bisa kutemukan di luar sana. Di luar rumah, aku bertemu kesusahan. Di warung, di jalanan, di tengah hiruk-pikuk dunia. Lalu, saat aku kembali, aku membawa secuil kisah dari luar, membagikannya kepada istri dan anak. Dan sebaliknya, segala lelah dan duka yang melekat di tubuhku, kularutkan dalam kehangatan rumah. Seolah-olah rumah adalah tempat penyucian, tempat segala beban luruh menjadi kelegaan.

Rumahku sederhana, didominasi warna putih. Dinding-dindingnya putih, pintu-pintunya putih, jendelanya pun putih. Aku ingin hati ini pun seputih itu, sebersih itu. Tapi noda tetap saja ada, bercak-bercak samar yang sulit dihapus. Namun bukankah putih masih tetap dominan? Maka biarlah, kelak akan kuperbarui lagi, akan kupoles lagi, hingga rumah ini tetap bercahaya, seperti hatiku yang selalu ingin kembali kepada kebaikan.

Saat ini, aku hanya bisa menitipkan rumah itu kepada Tuhan. Menitipkan kehangatannya, kebahagiaan di dalamnya, serta orang-orang yang kucintai. Sementara aku jauh, sementara kunci ini masih erat dalam genggamanku. Semoga tak jatuh, semoga tak hilang. Sebab kehilangan kunci berarti kehilangan jalan menuju rumah. Kehilangan cara untuk kembali ke tempat di mana aku merasa paling utuh.

Aku ingin pulang. Ingin kembali merasakan damainya duduk di ruang tamu, mendengar canda istri dan tawa anak, merasakan bahwa di sinilah segala pencarian berakhir. Bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, rumah selalu menjadi tempat yang paling ingin kudatangi lagi.

Mungkin ini hikmahnya. Mungkin aku tak perlu bermimpi terlalu jauh. Dunia ini luas, tapi rumah pun sudah seluas dunia. Segala keindahan sudah ada di dalamnya. Kesusahan telah dibuang ke luar, yang tersisa hanyalah kasih sayang dan kegembiraan.

Ya Tuhan, izinkan aku segera pulang.
Karena rumah adalah tempat yang paling ingin kutuju, selalu.

Senin, 21 Juli 2025

“Akankah Solo Hiking Pulosari?”. Jurnal Perjalanan Ke Gunung Pulosari Via Cihunjuran with Banten Adventure Club (BAC). 19 Juli 2025.

 


 Hal yang mendasar dari naik Gunung Pulosari kemarin adalah kesenangan. Aku udah mendasari adanya kesenangan atau hobi naik gunung ini. Hobi yang akan hilang dengan sendirinya. Tetap bersujud kepada Al Kabir. Yang Maha Besar. Indah ciptaan-Mu Tuhan. Tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah, tetap. Alhamdulillah, ketika naik menuju puncak, Alhamdulillah ala kulli haal, ketika turun gunung itu.  Tapi tetap didasari oleh hobi atau kesenangan.  Jadi,… ya terlaksana, naik dan turun gunung itu. Mudah-mudahan banyak kebaikannya. Senang, keluar keringat. Olahraga naik gunung, pengen berhenti, tapi sudah seperti candu.

          Ada banyak hal yang sepertinya tidak dapat dituliskan, tidak dapat dikatakan. Jalani saja, nikmati. Tapi memang Gunung Pulosari ini jalurnya 90% adalah kesenangan. Aku enjoy dengan Gunung Pulosari ini.. Entah karena faktor apa?.  Tapi sebelum naik Gunung Pulosari tersebut, seperti sudah mensetting rasa, dalam pikir, bahwa ini perjalanan kesenangan, perjalanan hobi.

Saya teringat teman naik Gunung Salak yang bercerita, pernah naik Gunung Pulosari, dan dia cerita yang menyenangkan. Saya mengingatnya itu selalu. Dan itu yang mendasari perjalanan kemarin dan memang enjoy perjalanan kemarin itu. 90% enjoyable. This is my first time in Mount Pulosari.

Nggak inget faktor usia. Saya mendaki bersama senior-senior pendaki gunung; Pak Ehan, Pak Yusuf, Pa Hamim, Pak Isa, Pak Najib Hamas, Wabup Kab. Serang Banten.,  Pak Syahroni, Pak Bahri, Pak Malik, Pak Wiji dan bapak-bapak Ustadz senior lainnya. Afwan nggak kesebut semuanya. Seingat saya, pendaki sebaya, sudah pasti tim leader Dan Oka, Fungki, Didi, Musa, Ayip, Kang Julianto, Madan, Afzalu, Sudrajat, Ujang.

 Ibu-ibu; Bu Ina, Bu Sukma, Bu Rita, dll maaf ngga kesebut satu persatu. Peserta gen-Z dan milenial; anak-anak Pak Malik, adik-adik dari Puri Anggrek dan lain-lain Afwan nggak kesebut satu-satu .  Peserta anak-anak; Ahsan, putra Pak Topan panitia, dan Zihar putra Pak Romi panitia. total pendaki 61 orang tidak jauh dari yang direncanakan panitia. Mendaki bersama seperti ini mengasyikkan. Manajemen pendakian berjalan lancar. Tentu tetap banyak masukan bagi panitia.

Nggak ada olahraga selain hiking ini, bagi saya, yang menguras keringat,  plusnya adalah pemandangan alam yang menyegarkan mata batin dan kasat mata. Hiking, naik dan turun menguras keringat. Segar ke badan, sehat, mudah-mudahan seperti Pak Ehan, yang sepertinya paling senior masih hobi naik gunung.

Saya merasa letih yang sangat, ketika turun dari Pos 3 ke pos 2, lalu pos 1, lalu Basecamp Cihunjurun kemarin itu, kok seperti nggak sampai-sampai. Berkali-kali aku Istighfar dalam hati  dan zikir-zikir lain yang kuingat. Rekan lain bercanda-bercanda, aku tersenyum aja. Kadang tertawa. Mungkin menghibur dan berusaha melupakan kelelahan. Sedikit membantu. yang kurasakan kelelahan tetap ada, air minum menipis, bahkan habis di  daypack. Tapi begitu Dan Oka putar MP3, “Gaza Gaza Gaza Palestina merdeka”, hampir netes air mata, kutahan. Entah berapa persennya kelelahan ini dibanding mereka di Gaza. Ya Tuhan.. tolong mereka, ampuni kami.  Hampir menyerah, aku, doa aja yang bisa dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Ahsan, anak kelas 2 SD bergantian aku senteri lampu dengan Zihar, dia bawa headlamp. Kang Julianto yang akhirnya membawa mereka turun sampai BC.

Beberapa kejadian yang membuat senyum tersungging, ketika Uda ZB, mau meninggalkan tamu VIP kali ini, Pak Ustaz Najib. Kalau tidak salah selepas istirahat kurang lebih jam 20.00 WIB di pos 2,5 ya. “Pak wakil dah turunkan?” rekan yang lain komentari “itu masih di belakang. Masa mau ditinggal?”. Sejak awal pendakian dari Basecamp Cihunjuran, Pak Wakil Bupati Kabupaten Serang, dikawal oleh Uda ZB dan kelompok 1. Semoga Pak Najib Hamas nggak bosan nanjak bareng BAC lagi ya pa. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan di sana-sini dari kami panitia.  Quote yang saya ingat dari beliau “Hidup pasti banyak tantangan, tetaplah fokus pada tujuan”. Sips. kejadian lain yang teringat olehku dan membuat senyum tersungging adalah ketika seorang pendaki, non BAC, duduk di belakang Pak wakil dan hampir mematahkan kursi bambu itu di pos 1,5 kalau nggak salah. Dia bolak-balik ke sana kemari, cari tempat buat istirahat duduk lagi. Dan dapatlah di depan Pak Wakil. Mungkin hampir 5 menit dia baru tersadar, ‘ini di hadapan saya Pak Wakil’..,.. barulah dia samperin Pak Najib,.. ‘eh Bapak. Maaf baru ngeuh’. Salaman diikuti rekan-rekan satu timnya. Kalau nggak salah dia kerja di Bina Marga, lalu foto-foto seperti biasa.

Iyang, teman perjalanan yang sering banyak ngobrol dengan aku. Alhamdulillah, kalau nggak ada Iyang, mungkin aku lebih banyak ngomong sama diriku sendiri, seperti biasa, atau banyak bicara di HT. Tapi ketika turun dari Pos 3 pun, obrolan dengan diri tetap berkecambuk dalam kepala… pikir itu mikir ini. Kontemplasi itu, kontempsasi ini.. Halah. hehehe lupa apa yang harus ku tulis hasil kontemplasi itu.  Banyak. Hanya saja aku harus fokus berjalan. nggak pegang kertas dan pulpen. Aku pegang tracking pole punya Pa Hamim ternyata.  Aku merasa bersalah ke beliau kirain tracking pole yang aku pakai, milik Dan Oka, ternyata punya beliau. Maaf ya Pak Hamin. Aku kembalikan ketika turun dari pos yang ada toilet tertutup terpal biru, tempat aku dan Iyang ngopi, nikmatnya. Thanks God. Aku nemu tongkat kayu di situ. Kok pas banget, kubawa tongkat itu sampai rumah, sepertinya dari batang Pohon Trembesi, kokoh. Aku izin bawa pulang sama orang di Basecamp Cihunjuran. “Bawa aja Pak”, katanya. Thanks..

Rekan-rekan Korsad dan kelompok 1 yang kawal Pak Wakil, luar biasa. Sabar menemani beliau. Uda ZB, Pak Kusnadi dkk,  orang-orang yang sudah teruji di alam liar sepertinya. Aku nggak bakalan sanggup jadi Korsad. Jangan ajak-ajak saya jadi Korsad ya.. 😊 Bareng Jalan Mereka aja suatu kebanggaan bagi saya, pecinta alam biasa. Pak Ehan bercerita, hanya bisa sampai tingkat dasar 3, belum jadi Korsad 100%. Teringat Mas Herman di Bogor pernah bercerita, “Berat kalau mau jadi Korsad”. He told me many things. Oka juga cerita.  Terus aku nyerah saja dengar cerita Mas Herman dan Oka.

 Aku seperti kepikiran ingin kembali lagi nanjak ke Gunung Pulosari Via BC Cihunjuran ini. Aku menyebutnya, gunung yang friendly. Sejauh ini, Aku merasa nyaman naik gunung kemarin itu. Treknya yang bisa dilalui dengan nyaman atau entah mungkin aku mendasari perjalanan kemarin dengan kesenangan yang sudah di set di hati dan pikiran, dimana sebelumnya, di rumah Aku diare dan hidung meler terus. Tapi begitu sampai BC, sembuh. Alhamdulillah… Allahu Akbar. Aku merasa perut nggak beres lagi, setelah makan Pop Mie di basecamp jam 21.00-an bareng Iyang. Lalu aku izin ke Oka dan Pak Yusuf mau ke toilet. Plong.

Spot-spot tertentu sebelum Puncak indah banget pemandangannya. Mungkin pembaca harus lihat videonya. Beberapa gunung terlihat jelas, Selat Sunda, Gunung Krakatau, Gunung Rajabasa sepertinya, Gunung Karang terlihat jelas indah dari kejauhan, Subhanallah, Allahu Akbar, kecilnya aku, ego kesombongan yang besar, maafkan kami Tuhan,.. sering lupa kepada-Mu.

 Gunung Pulosari 1343 mdpl. Gunung tersebut seperti welcome, menyambut kami kemarin itu. Tim  panitia 12 orang, peserta 49 orang. Cuaca cerah, tidak mendung, jalanan kering, hari sebelumnya tidak ada hujan sepertinya. Mestakung, Semesta Mendukung. Kami enjoy banget naik via BC Cihunjuran itu.  Coach Madan membimbing peregangan dan pemanasan di basecamp. Seru. Kalau nggak salah aku berpasangan sama Pak Mulyadi atau Pak Nasrul ya? ketika peregangan pemanasan itu.  Kocak juga Coach Madan membimbing acara tersebut. Tim pendakian dibagi menjadi 6 Kelompok. Walau fleksibel ketika sudah berjalan. Enjoy saja.  Kalau nggak salah, dari info di HT yang ku pegang, jam 12 kurang sudah ada yang berhasil summit. Sepertinya milenial dan gen Z yang muncak duluan. Aku enjoy jadi sweeper bareng Pak Bahromi. Walau akhirnya Pak Bahromi nyuruh aku naik aja duluan.

Aku teringat ketika lewat menuju Basecamp Cihunjuran dari tempat parkir mobil, penduduk lokal ngobrol dengan temannya, “Heran, Jaba cape naik gunung teh. mayar deui tilu puluh rebu. tapi loba bae nu naek gunung”

He won't  understand about hiking_ sweaty, friendship, serenity, adventure, danse trees,  fresh air, smooth land,  luxury view, charity, helpfull each other, regard each other, loving, laugh out loud (LOL), Summit, preparing, processing, evaluation, planning, managing, controlling, mindfull, mindset, caring, heart breaking, sacrifice, illusion, hopelessness_  until He hike twice, wherever. Banyak unsur lain yang hadir dalam hiking, aku pernah lihat penampakan ketika turun Semeru LOL. Mungkin kelelahan yang sangat ketika itu. Pada akhirnya kita mensyukuri apa yang Tuhan beri, berterima kasih kepada orang-orang pilihan-Nya, berterima kasih pada orang-orang baik di sekitar kita, tetap belajar, berproses, mencari ilmu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Ingin masuk surga. Aamin..

 Saya di amanahi jadi TG atau team guide. Awalnya aku kira inisial Namaku, Tedi Gumelar. Makasih Dan Oka, Maaf bila belum maksimal jadi TG bagi kelompok 5. Cinangka Ranger plus Iyang. Pak Ehan, Pak Ujang, Pak Syahroni, Rozak, Afzalu dan istri beliau. La haula walaa quwwata illa billah- aja, diajakin oleh Oka jadi panitia di komunitas BAC ini. Pendakian pendakian ke Papandayan, Semeru, Slamet, Salak, aku jadi anggota tim aja. Dan sebetulnya enjoy jadi anggota tim. Tapi Bismillah, belajar jadi panitia, senang bisa pegang HT, ngasih masukan, ngerecokin. Mudah-mudahan ada kebaikan.

Saya mendengar Dan Oka dzikir Ma’tsurat ketika bawa Hiace  dari meeting point di Serang dan ngebut banget. Aku mikir dalam hati, semoga selamat. ‘Budal selamat, Mulih selamat’. Tagar komunitas MAI (Moslem Adventure Indonesia) ketika sumit Gunung Slamet, tapi kurasa penumpang-penumpang atau para pendaki di Hiace berdzikir semua, dibawa ngebut gitu sama Dan Oka. Mungkin biar itenary/sunara terkejar.

Secara umum pendakian ini berjalan lancar. Semoga para pendaki Gunung Pulosari yang tergabung di BAC kali ini puas dengan layanan panitia.

 Sampai puncak sinyal di HP alhamdulillah ada. Ampun,  teman kerjaan, nelpon lagi masalah kerja ketika di pos 2,5 kalau nggak salah. Ketika itu aku lagi ngopi sama Iyang. Sisi yang lain aku jadi update status WA terus.. “wa ammaa bini’mati robbika fa haddist”.. .

Hari-hari sebelum naik Gunung Pulosari ini disibukan dengan pekerjaan seperti biasa, tapi tidak atau belum merasakan kepenatan. Yang kuingat, aku sakit flu, yang saya pikir, akan membatalkan hiking kali ini. BAB beberapa kali/diare. Aku sudah pasrah, bila memang nggak jadi berangkat. Aku akan izin di grup panitia. Pagi jam 01.00 aku terbangun, dan merasa sehat. Aku pikir, Aku bisa berangkat dengan perbekalan yang minim. Alhamdulillah. Cairan di hidung hilang ketika naik gunung, diare tersumbat, tergantikan dengan view cantik di atas Gunung Pulosari.

Gunung Pulosari ini bersahabat, yakin aja itu. Senang. full with Joy  90%. Tetapi setelah menulis ini saya merasa 100%. Banyak terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya teringat didampingi banyak  asma Allah. Asmaul Husna di trek menuju puncak itu. Banyak penanda arah ke puncak ditulisi dengan nama-nama Allah yang baik. Saya ingat Al Kabir, Al Mujib, Al Jalil, Al Hasib. Subhanallah. apresiasi besar kepada pengelola track Basecamp Cikunjuran. Jadi seperti dzikir terus pas naik itu. Yang saya ingat Kang Asep dan kawan-kawan tentunya, pengelola, BC Cihunjuran tertata rapi, nyaman seperti Cafe, ada toilet duduk juga seingatku.

 Sampai Pos 3 jalanan landai. Lepas Pos 3, mulai nanjak. Tapi ya itu tadi, ada kesenangan menjadi dasar hiking kali ini. Jadi, ya senang aja.

Kutipan puisi  ‘The Road Not Taken’, yang mungkin nyambung dengan perjalanan ini. Karya Robert Frost..

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I—

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

 

 

11:14 am

www.tedigumelaran.blogspot.com

Fataqobbal minna…