Minggu, 18 Oktober 2026

Jurnal 17 oktober 2026

Perjalanan, Kepulangan, dan Bekal Kehidupan

Cerita Bedolan Pamarayan 17 Oktober 2026








Janganlah lupa, apabila hendak bepergian, pikirkanlah pula bagaimana kelak akan pulang. Dengan kendaraan apa, bersama siapa, dan pada pukul berapa perjalanan itu akan berakhir. Jangan hanya bergembira ketika berangkat, lalu kebingungan ketika hendak kembali. Sebab, kesenangan yang sempurna bukan semata-mata ketika kita sampai di tempat tujuan, melainkan juga ketika kita dapat pulang dengan selamat, membawa pengalaman, dan menyimpan kenangan yang baik di dalam hati. Begitulah kehidupan ini. Manusia senang berjalan, berkunjung, bergaul, bekerja, dan menikmati keramaian dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita dan memberi kesempatan untuk menjalani perjalanan yang panjang ini. Dunia terasa terang benderang, penuh warna dan perjumpaan. Ada orang-orang yang datang, ada yang pergi, ada yang duduk bersama kita untuk sekadar berbincang, dan ada pula yang hanya sebentar singgah, tetapi meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang. Kita bersosialisasi, mencari nafkah, membangun persahabatan, menyelesaikan pekerjaan, dan merasakan berbagai kenikmatan yang Allah hamparkan di sepanjang jalan. Namun, di tengah kesibukan itu, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memikirkan perjalanan pulang yang sesungguhnya? Sebab, pulang yang paling hakiki bukanlah kembali ke rumah setelah bepergian, bukan pula turun dari kereta lalu melangkah menuju tempat tinggal. Pulang yang sebenarnya ialah kembali menghadap Allah, Tuhan yang menciptakan kita. Lalu, bekal apakah yang telah kita siapkan untuk perjalanan itu? Adakah kebaikan yang kita bawa, adakah amal yang dapat kita harapkan, dan adakah rahmat Allah yang kita mohonkan? Dalam perjalanan dunia, kita dapat membeli tiket dengan uang dan memilih kendaraan sesuai kemampuan. Akan tetapi, untuk perjalanan akhirat, bekal yang kita harapkan adalah iman, amal saleh, kebaikan kepada sesama, serta rahmat dan kasih sayang Allah. Maka, selagi perjalanan ini masih berlangsung, janganlah kita terlalu asyik menikmati pemandangan sampai lupa mempersiapkan kepulangan.


Pagi itu, Sabtu, 17 Oktober 2026, aku berkeinginan pergi ke Pamarayan untuk menyaksikan Bedolan Pamarayan. Hampir enam tahun acara itu tidak terselenggara, dan selama menjalankan tugas sebagai penyuluh perikanan di Kabupaten Serang, aku belum pernah sekalipun menyaksikannya secara langsung. Ada rasa penasaran yang tumbuh dalam hati. Bagaimanakah sesungguhnya suasana acara yang telah lama dinanti-nantikan masyarakat itu? Malam sebelum pelaksanaan bedolan, menurut kabar yang kudengar, telah digelar pertunjukan wayang di lapangan dekat bendungan. Ada pula doa bersama, memohon agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar, dijauhkan dari musibah, dan tidak menimbulkan korban. Di balik kemeriahan sebuah pesta rakyat, rupanya tersimpan pula harapan dan kecemasan manusia yang ingin semuanya berjalan dengan selamat. Aku kemudian memesan tiket kereta untuk keberangkatan pukul 11.04. Sayangnya, karena terlalu memikirkan tujuan perjalanan, aku lupa memesan tiket pulang. Barulah kemudian aku mendapatkan tiket untuk perjalanan kembali sekitar pukul 19.20. Alhamdulillah, masih ada tempat untukku pulang. Aku pun tidak perlu terlalu khawatir memikirkan bagaimana mengakhiri perjalanan hari itu. Justru dengan jadwal kepulangan yang cukup malam, aku memiliki kesempatan untuk menyaksikan lebih banyak hal di Pamarayan. Sesampainya di sana, aku melihat keramaian yang begitu besar. Ribuan orang tampaknya terlibat atau datang untuk menyaksikan acara tersebut. Lapangan dipenuhi stan pameran, tempat berjualan, panggung utama, dan tenda-tenda yang berdiri melengkapi suasana. Orang-orang datang bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman lama. Ada yang hendak berbelanja, ada yang ingin menyaksikan acara, ada yang menjadikan kesempatan itu sebagai ajang reuni, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati suasana yang telah lama dirindukan. Aku membayangkan betapa banyak cerita yang tersimpan di balik keramaian itu. Mungkin ada orang yang telah bertahun-tahun tidak bertemu sahabatnya, lalu kembali berjumpa di tempat yang sama. Mungkin ada anak yang datang bersama orang tuanya untuk pertama kali, sementara bagi orang tuanya, bedolan merupakan kenangan masa muda yang akhirnya dapat dinikmati kembali. Alhamdulillah, aku pun menjadi bagian kecil dari peristiwa itu. Bukan sebagai penyelenggara atau tokoh penting, melainkan sebagai seorang yang ingin melihat, belajar, dan mensyukuri kesempatan yang diberikan Allah.


Akan tetapi, di balik kemeriahan itu, perjalanan menuju terselenggaranya Bedolan Pamarayan ternyata tidak sepenuhnya mudah. Sempat beredar kabar bahwa acara tersebut dibatalkan karena beberapa rumah yang berada di tepi sungai terancam longsor. Pada mulanya, acara direncanakan berlangsung tanggal 10 Oktober, tetapi rencana itu tidak terlaksana. Masyarakat yang telah lama menunggu kemudian menyampaikan aspirasi, bahkan melakukan demonstrasi di depan kantor BBWS. Aku tidak mengetahui seluruh pertimbangan teknis yang mendasari persoalan tersebut, tetapi dapat membayangkan betapa besar harapan masyarakat yang telah menantikan acara ini hampir enam tahun lamanya. Bagi sebagian orang, mungkin bedolan hanyalah sebuah acara tahunan. Namun, bagi masyarakat Pamarayan dan sekitarnya, ia dapat menjadi lebih daripada itu: ruang perjumpaan, kenangan bersama, kebanggaan kampung halaman, dan kesempatan menghidupkan kembali tradisi yang telah lama dinanti. Karena itu, ketika akhirnya acara terlaksana pada Sabtu, 17 Oktober 2026, suasananya terasa istimewa. Masyarakat berbondong-bondong datang menuju bendungan. Antusiasme mereka tampak dalam setiap sudut keramaian. Orang-orang menyaksikan pengangkatan ikan dari sungai, termasuk ikan caung, nila, dan emas yang disebut-sebut terdapat di perairan tersebut. Ada sorak kegembiraan, percakapan yang bersahut-sahutan, dan wajah-wajah yang menunjukkan rasa senang karena akhirnya dapat menyaksikan kembali peristiwa yang telah lama dinantikan. Aku memandang semua itu dengan perasaan syukur. Betapa berharganya sebuah kesempatan yang tidak selalu datang setiap tahun sebagaimana yang kita harapkan. Kadang-kadang, sesuatu baru terasa istimewa setelah lama tidak kita jumpai. Begitu pula dengan pertemuan, pekerjaan, kesehatan, bahkan kesempatan untuk sekadar keluar rumah dan menyaksikan kehidupan masyarakat. Selama ini kita mungkin menganggap semua itu biasa. Namun, ketika kesempatan tersebut tertunda bertahun-tahun, barulah kita mengerti bahwa tidak setiap keinginan dapat segera diwujudkan. Ada proses yang harus dilalui, ada persoalan yang perlu diselesaikan, dan ada kesabaran yang harus dijaga. Aku bersyukur dapat menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat berkumpul dalam suasana yang meriah. Semoga tradisi dan kebersamaan seperti ini terus terpelihara dengan memperhatikan keselamatan warga dan kelestarian lingkungan. Sebab, kegembiraan yang baik bukan hanya kegembiraan yang dirasakan hari ini, melainkan juga yang meninggalkan kebaikan bagi hari esok.


Di sela-sela kunjungan itu, aku menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah Pak Umar. Aku sempat memikirkan hendak menghubungi Pak Caram atau mampir ke tempat lain, tetapi akhirnya langkahku membawaku ke rumah beliau. Sesampainya di sana, aku membuat kopi sendiri, kemudian disuguhi ranginang yang renyah. Sederhana sekali, tetapi justru di dalam kesederhanaan itulah terkadang tersimpan kehangatan yang tidak dapat dibeli di tempat lain. Abah Umar kemudian bercerita tentang kejadian setelah kunjunganku sebelumnya bersama Pak Yogi. Katanya, ada seekor ular panjang kira-kira satu meter di atas amben, tempat beliau biasa duduk. Aku terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, tempat yang biasa digunakan untuk duduk santai dan berbincang ternyata menjadi tempat singgah makhluk yang tak disangka-sangka. Namun, ular itu rupanya sudah mati ketika ditemukan. Abah Umar menyampaikan berbagai cerita lainnya, dan aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Beliau adalah orang yang dituakan di lingkungannya, seseorang yang dihormati bukan hanya karena usia, melainkan juga karena kebiasaan dan ketekunannya menjalani kehidupan. Beliau rajin menunaikan salat lima waktu di masjid. Dalam percakapan kami, beliau juga menyampaikan pandangannya tentang amalan zikir *Qul huwallahu ahad* setelah salat, yang menurut beliau sangat utama. Dari percakapan sederhana itu, aku mendapatkan pelajaran bahwa silaturahmi tidak selalu harus disertai agenda besar atau pembicaraan yang berat. Kadang-kadang, cukup duduk bersama orang yang lebih tua, menikmati secangkir kopi, mendengarkan pengalaman hidupnya, dan mengambil hikmah dari hal-hal yang diceritakannya. Ada ilmu yang tidak selalu kita peroleh dari buku, tetapi tumbuh dari perjumpaan dengan manusia yang telah melewati banyak musim kehidupan. Sekitar pukul 17.30, aku berpamitan dari rumah beliau. Ada rasa senang karena telah menyempatkan diri bersilaturahmi, terlebih setelah seharian menyaksikan kemeriahan Bedolan Pamarayan. Hari itu aku memperoleh dua macam pengalaman: keramaian yang mempertemukanku dengan banyak orang dan ketenangan yang kudapatkan dari percakapan bersama seorang yang lebih tua. Keduanya memiliki keindahan sendiri. Keramaian mengajarkan betapa luas kehidupan manusia, sedangkan silaturahmi mengingatkan bahwa di tengah luasnya dunia, hubungan antarmanusia tetaplah sesuatu yang patut dijaga. Semoga Allah memberikan kesehatan dan keberkahan kepada Abah Umar serta semua orang yang telah kutemui hari itu. Semoga perjumpaan yang sederhana itu menjadi bagian dari kebaikan yang kelak dapat kubawa sebagai bekal ketika harus pulang menghadap-Nya.


Kini aku kembali menuju Stasiun Catang untuk naik kereta pukul 19.24 menuju Serang. Perjalanan hari ini hampir selesai. Aku telah melihat kemeriahan Bedolan Pamarayan, menyaksikan antusiasme masyarakat, dan menikmati hangatnya silaturahmi di rumah Abah Umar. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah memberiku kesempatan untuk berjalan-jalan, melihat kehidupan, dan bertemu dengan orang-orang yang membawa pelajaran bagi hati. Aku duduk di dalam kereta sambil berharap perjalanan ini berlangsung dengan selamat sampai tujuan. Dalam suasana seperti ini, pikiranku kembali kepada nasihat sederhana yang sejak awal menjadi renungan: kalau hendak pergi, jangan lupa memikirkan bagaimana pulangnya. Dalam urusan dunia, kita perlu memastikan kendaraan, jadwal, dan tujuan. Jangan sampai kegembiraan ketika berangkat membuat kita lupa mempersiapkan kepulangan. Akan tetapi, ada satu kepulangan yang jauh lebih penting daripada perjalanan kereta malam ini. Suatu hari kelak, setiap manusia akan menempuh perjalanan yang tidak dapat diwakilkan oleh siapa pun. Kita akan meninggalkan rumah, pekerjaan, jabatan, harta, dan segala keramaian dunia yang selama ini mengisi hari-hari kita. Pada saat itu, bukan lagi tiket kereta yang menjadi persoalan, melainkan bekal amal yang kita bawa dan rahmat Allah yang kita harapkan. Aku pun bertanya kepada diriku sendiri: jika perjalanan dunia saja perlu kupersiapkan dengan sungguh-sungguh, mengapa perjalanan akhirat terkadang justru kulupakan? Sudahkah aku memperbanyak kebaikan? Sudahkah aku menjaga salat, menghormati orang tua, menolong sesama, dan menunaikan amanah pekerjaan dengan sebaik-baiknya? Sudahkah aku meminta ampun atas kesalahan yang pernah kulakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu kujawab dengan kesombongan, sebab aku tahu betapa banyak kekurangan dalam diriku. Cukuplah pertanyaan itu menjadi pengingat agar aku tidak terlalu terlena oleh kesenangan dunia. Aku ingin menikmati kehidupan dengan penuh syukur, tetapi tidak sampai melupakan tujuan akhir. Aku ingin bekerja, bersilaturahmi, melihat tempat-tempat baru, dan merasakan kebahagiaan bersama manusia, tetapi juga ingin membawa pulang bekal yang baik ketika kelak kembali kepada Allah. Ya Allah, selamatkanlah perjalanan kereta ini hingga aku tiba di Serang. Selamatkan pula perjalanan hidupku hingga akhir hayat. Berikan aku hati yang pandai bersyukur, langkah yang senantiasa menuju kebaikan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum waktu berakhir. Jangan biarkan aku hanya sibuk mencari jalan pulang ke rumah, tetapi lupa mempersiapkan jalan pulang kepada-Mu. Semoga Engkau melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Mu, mengampuni segala dosa, serta mempertemukanku kembali dengan orang-orang yang kucintai dalam kebaikan dan rida-Mu. Aamiin ya Rabbal 'alamin.                      


Minggu, 11 Oktober 2026

Jurnal 11 oktober 2026




 Nikmat yang Sering Luput dari Syukur

Catang, 11 Oktober 2026 — Pukul 19.00



Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, bahkan melalui hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian. Hari ini aku kembali merasakan betapa banyak kebaikan yang telah Allah hamparkan dalam perjalanan hidupku. Pagi dimulai dengan bangun tidur dan menunaikan salat Subuh di masjid. Ada ketenangan tersendiri ketika memulai hari dengan bersujud kepada-Nya, seolah-olah segala urusan yang menanti di hadapan telah kuserahkan lebih dahulu kepada Sang Pemilik kehidupan. Setelah itu, aku berangkat naik kereta menuju Catang. Dari sana, aku dibonceng Pak Caram menuju Kebon Cau, Pamarayan, untuk mendirikan kelompok perikanan yang baru. Di desa itu, aku bersilaturahmi dengan Pak Yogi, Pak Nadi, Pak Opi, Pak Ely, dan beberapa orang lainnya. Pertemuan itu bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan juga perjumpaan antarmanusia yang menyimpan kehangatan. Kami berbincang, bertukar cerita, dan makan siang bersama. Hidangan yang tersaji begitu sederhana: telur dadar, ikan asin, tumis tahu, kentang, dan beberapa lauk lainnya. Namun, di hadapan rasa lapar dan kebersamaan yang tulus, makanan sederhana itu terasa istimewa. Betapa sering manusia mengejar kenikmatan yang jauh, padahal Allah telah menyediakan begitu banyak kebahagiaan di dekatnya. Siang itu aku belajar kembali bahwa nikmat tidak selalu datang dalam kemewahan. Terkadang ia hadir melalui sepiring nasi, lauk sederhana, keramahan tuan rumah, dan kesempatan untuk bekerja sambil menjalin silaturahmi. Alhamdulillah, hari itu aku diberi kesehatan, perjalanan yang lancar, pekerjaan yang bermanfaat, dan pertemuan dengan orang-orang baik.


Setelah urusan di Kebon Cau selesai, aku kembali ke Catang. Aku beristirahat di musala stasiun sambil menunggu waktu berlalu. Tidak ada firasat apa-apa ketika itu. Aku hanya ingin merebahkan tubuh sejenak setelah menjalani aktivitas sejak pagi. Akan tetapi, rupanya ada satu perkara kecil yang luput dari perhatianku: kunci sepeda motor terjatuh dari saku jaket. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Baru ketika kereta telah bergerak menuju Serang, kesadaran itu datang seperti pintu yang tiba-tiba terbuka. Tanganku meraba saku, lalu mengulanginya sekali lagi, berharap kunci itu masih berada di tempat semula. Namun, yang kutemukan hanyalah kekosongan. Seketika pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika kunci itu tidak ditemukan? Bagaimana jika ada orang yang mengambilnya? Bagaimana jika motorku tidak bisa digunakan untuk pulang? Pikiran-pikiran itu datang bertubi-tubi, membentuk kecemasan yang semakin panjang. Aku tahu, persoalannya mungkin tampak sederhana bagi orang lain, tetapi ketika sesuatu yang penting tiba-tiba hilang, pikiran manusia sering kali berlari lebih cepat daripada kenyataan. Aku turun di Stasiun Serang dan berusaha melaporkan kehilangan itu. Sebelumnya, di dalam kereta, aku telah bertanya kepada petugas KAI yang bertugas di gerbong. Namanya Syahrul. Alhamdulillah, ia menanggapi dengan baik dan segera menghubungi pihak Stasiun Catang. Aku pun mengirimkan foto kunci motor sebagai petunjuk. Dalam keadaan seperti itu, perhatian kecil dari seseorang terasa begitu berarti. Di tengah kecemasan yang menguasai pikiran, masih ada orang yang bersedia membantu tanpa banyak bertanya, tanpa membuat persoalan terasa semakin berat. Aku mulai menyadari bahwa di balik setiap kesulitan, Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan manusia yang tidak pernah kita duga sebelumnya.


Alhamdulillah, kabar baik itu akhirnya datang: kunci motorku ditemukan di Stasiun Catang. Lega rasanya mendengar berita tersebut. Sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikiranku dengan berbagai kecemasan ternyata tidak berakhir seburuk yang kubayangkan. Namun, ada satu hal yang harus kuterima: kunci itu tidak dapat dibawa oleh kereta berikutnya ke Serang. Aku harus kembali sendiri ke Catang untuk mengambilnya. Tidak mengapa, pikirku. Setidaknya kunci itu telah ditemukan, dan aku tidak perlu membeli tiket kereta lagi untuk mengurus persoalan tersebut. Terima kasih, KAI, atas bantuan dan pelayanan yang diberikan. Terima kasih, Pak Yogi dan Pak Caram, yang telah menjadi bagian dari perjalanan hari ini. Terima kasih pula kepada Pak Imam, Pak Ghalih, dan semua pihak yang membantu di Stasiun Catang maupun Stasiun Serang. Mungkin bagi mereka, pertolongan itu hanyalah pekerjaan biasa atau kebaikan kecil yang segera terlupakan setelah hari berganti. Namun, bagiku, semua itu adalah bagian dari nikmat Allah yang patut dicatat dalam ingatan. Aku sempat terlalu jauh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Padahal, kenyataan belum tentu seburuk prasangka. Saat kecemasan mulai menguasai diri, aku teringat bahwa hidup ini tidak akan menjadi lebih ringan hanya karena kita terus-menerus mengkhawatirkan segala kemungkinan. Ada perkara yang memang harus diusahakan, ada yang harus diselesaikan dengan ikhtiar, dan ada pula yang pada akhirnya mesti diserahkan kepada Allah. Ketika waktu menunjukkan pukul tiga lewat, aku menunaikan salat Asar di Stasiun Serang. Di tengah kesibukan orang-orang yang datang dan pergi, aku berhenti sejenak untuk menghadap kepada-Nya. Barangkali inilah salah satu pelajaran hari ini: di tengah urusan dunia yang terkadang membuat hati gelisah, manusia selalu memiliki tempat untuk kembali. Aku tidak harus mengetahui seluruh jawaban saat itu juga. Aku hanya perlu berusaha, berdoa, dan belajar menerima apa yang belum dapat kukendalikan.


Di antara perjalanan kereta, kehilangan kunci, dan pertolongan orang-orang baik, pikiranku kemudian sampai pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perkara yang sedang kuhadapi. Aku teringat bahwa belumlah sempurna keselamatan hidup seseorang hanya karena ia terbebas dari kesulitan dunia. Keselamatan yang sesungguhnya adalah ketika kelak Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga. Ah, betapa jauh perjalanan menuju ke sana, dan betapa banyak kekurangan yang masih melekat pada diriku. Aku bukan manusia tanpa kesalahan. Ada ucapan yang mungkin pernah melukai, ada sikap yang mungkin pernah mengecewakan, ada kewajiban yang belum kutunaikan dengan sebaik-baiknya, dan ada kesempatan berbuat baik yang mungkin pernah kulewatkan. Namun, ketika menengok kehidupan hari ini, aku juga melihat begitu banyak orang baik yang Allah tempatkan di sekelilingku. Mereka hadir dalam bentuk yang sederhana: seseorang yang memberikan tumpangan, seseorang yang menerima kedatangan dengan ramah, seseorang yang mengajak makan bersama, seorang petugas yang bersedia menghubungi stasiun lain, dan orang-orang yang membantu tanpa mengharapkan balasan. Jika dunia ini saja telah memberiku begitu banyak kebaikan, bagaimana mungkin aku berputus asa dari rahmat Allah untuk kehidupan akhirat? Tentu saja, aku tidak boleh menjadikan nikmat dunia sebagai jaminan bahwa surga pasti menjadi bagianku. Surga adalah karunia Allah yang harus diharapkan dengan iman, amal saleh, dan rahmat-Nya. Karena itu, aku ingin belajar mensyukuri apa yang telah ada, memperbaiki apa yang masih kurang, dan memohon agar segala kesalahan diampuni oleh-Nya. Aku ingin masuk surga bersama orang-orang yang kucintai, bersama keluarga dan orang-orang terdekat, dalam keadaan Allah meridai kami. Semoga Allah menambahkan nikmat-Nya di dunia, memberkahi setiap langkah yang kujalani, mengampuni dosa-dosaku, dan menganugerahkan kebaikan di akhirat kelak. Ya Allah, jangan biarkan kenikmatan yang Engkau berikan membuatku lalai dari mengingat-Mu. Jadikanlah ia jalan untuk semakin dekat kepada-Mu, bukan alasan untuk merasa bahwa aku telah cukup baik. Aamiin ya Rabbal 'alamin.


Malam telah turun ketika aku kembali berada di Stasiun Catang. Hujan deras mengguyur tempat itu, membasahi tanah dan membuat udara malam terasa berbeda dari siang tadi. Beberapa jam sebelumnya, kawasan Serang terasa sangat panas, seolah matahari enggan beranjak dari puncaknya. Kini, hujan datang membawa suasana yang teduh, sementara aku duduk dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada ketika pertama kali menyadari kunci motorku hilang. Alhamdulillah, kunci motor itu kini sudah berada di saku celanaku. Sesekali aku merabanya, memastikan bahwa benda kecil yang tadi sempat membuat pikiranku berkelana ke mana-mana benar-benar telah kembali ke tempatnya. Betapa lucunya manusia. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa, yang bahkan jarang disadari keberadaannya, mendadak menjadi sangat berharga ketika hilang. Begitu pula dengan banyak nikmat dalam hidup: kesehatan, waktu, pekerjaan, keluarga, persahabatan, dan kesempatan untuk beribadah. Sering kali kita baru benar-benar merasakan nilainya setelah hampir kehilangan atau ketika Allah mengingatkan kita melalui suatu kejadian. Malam ini, di tengah hujan deras di Stasiun Catang, aku tidak ingin menutup hari hanya dengan mengingat kecemasan yang tadi sempat menguasai diri. Aku ingin mengingat pertolongan yang datang, orang-orang yang berbuat baik, makanan sederhana yang kunikmati, salat yang kutunaikan, dan kesempatan untuk pulang dengan hati yang lebih lapang. Terima kasih, ya Allah, untuk hari yang penuh pelajaran ini. Terima kasih karena Engkau mempertemukanku dengan orang-orang baik dan mengajariku bahwa tidak semua kekhawatiran harus diikuti sampai ke ujungnya. Ada saatnya manusia cukup berikhtiar, lalu menyerahkan sisanya kepada-Mu. Semoga esok aku masih diberi kesempatan untuk bangun, bersujud, bekerja, bersilaturahmi, dan melakukan kebaikan sekecil apa pun. Semoga nikmat yang bertambah membuat syukurku bertambah, bukan kelalaianku. Dan semoga perjalanan panjang di dunia ini akhirnya mengantarkanku menuju perjalanan yang paling kuharapkan: pulang kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridai, lalu berkumpul di surga bersama orang-orang yang kucintai. Aamiin. Alhamdulillah. Terima kasih, Tuhan, untuk segala nikmat yang sering kali baru kusadari setelah Engkau mengingatkanku.

Kamis, 18 Desember 2025

Novel "The Mahameru" by Tedi Gumelar

 

jumlah halaman : 390 halaman A5
Penerbit : Harimate Publisher
HSBN  :  978 - 979 - 9055 – 73
pemesanan: klik  s.id/hrWZ9


 

Selasa, 23 September 2025

NOVEL "PERJUANGAN IKAN-IKAN"

 



Bismillah ...
"Teman duduk terbaik adalah buku"
Jual PDF Buku ke-4 saya
a Novel by Tedi Gumelar "PERJUANGAN IKAN-IKAN"
Penerbit: Harimate publisher
Halaman: 76 halaman
ukuran buku: A5.
Harga: Rp. 12.000,-
pesan?--->WA ke 081223898510 (Tedi)
Bayar ke gopay 081223898510 atau BRI 0387 0103 3728 506 a.n Tedi Gumelar 🙏
sudah bayar konfirmasi ke WA ke 081223898510 (Tedi)



Jumat, 15 Agustus 2025

In Memoriam Almarhum Ustad Drs H.E. Syamsudin


 


Catatan, 27 Oktober 2018

Ustadz Syam… Pak Syam.

Pagi itu, saya menyempatkan diri berkunjung ke rumah beliau di kampus IPB Darmaga. Alhamdulillah, saya bisa kembali bersua. Pak Syam—begitu kami biasa memanggilnya—adalah sosok “bapak” bagi para marboth Masjid Al-Hurriyyah. Rasanya selalu ada kebahagiaan setiap kali bertemu beliau. Wajahnya teduh, tutur katanya ringan, dan senyumnya penuh kehangatan.

Sudah dua tahun beliau pensiun dari dosen IPB. Saya datang dengan membawa oleh-oleh seadanya—ah, tak seberapa memang—namun beliau menerimanya dengan gembira. Katanya, beliau memang menyukai risol. Ada rasa haru yang sulit saya ungkapkan: betapa beliau bukan hanya guru, melainkan penuntun jiwa kami. Selalu ada canda, tapi tidak pernah berlebihan; selalu ada nasihat, namun dibungkus dengan kehangatan khas orang Sunda.

Saya teringat masa-masa ketika saya, dan juga para marboth lainnya, kerap merepotkan beliau dengan segudang persoalan. Entah tentang mahasiswa, kegiatan masjid, atau sekadar keluh kesah pribadi. Namun Ustadz Syam selalu menerima dengan lapang dada. Duduk bersama beliau serasa duduk di pangkuan seorang ayah: nyaman, aman, penuh ketulusan.

Beliau membimbing kami dalam kajian pekanan, liqo’, hingga beragam acara di Masjid Al-Hurriyyah. Kehadirannya menjadi cahaya yang menuntun langkah kami. Sejak wafatnya Ustadz Umung Anwar Sanusi di Banjar, saya merasa kehilangan seorang guru. Namun dalam sosok Ustadz Syam, saya kembali menemukannya.

Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi beliau…

Aamiin.


Catatan, 13 Agustus 2025

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Allaahummaghfirlahu, warhamhu, wa ‘afihi, wa’fu ‘anhu…

Pagi ini, selepas Subuh di Masjid Al-Ukhuwah Puri Cempaka Serang, kabar duka itu datang menghantam. Saya baru saja membuka ponsel dan membaca bahwa Ustadz Syam wafat pada Selasa malam, pukul 22.15 WIB, 12 Agustus 2025. Betapa lambat saya mengetahuinya. Hati saya terasa kosong, seakan sebagian cahaya dalam hidup padam bersama kepergian beliau.

Ustadz Syam bukan sekadar guru; beliau adalah bapak bagi kami, para marboth Masjid Al-Hurriyyah IPB. Ingatan saya segera melayang pada kajian tafsir yang beliau isi di aula masjid, saat saya masih menjadi penghuni asrama marboth. Beliau membimbing dengan penuh kesabaran, menuntun kami untuk memahami ayat-ayat Allah dengan hati yang jernih.

Senyum beliau khas: tulus, hangat, dan selalu disertai gurauan ringan yang penuh makna. Saya masih ingat kisah beliau kehilangan hafalan surat Al-Fatihah karena kepalanya terbentur pintu angkot. Namun, dengan izin Allah, hafalan itu pulih kembali. Dari cerita yang sederhana, beliau selalu berhasil menyelipkan hikmah.

Pertemuan terakhir kami terjadi di penghujung tahun 2024. Saat itu saya sedang berkunjung ke rumah mertua di Ciherang, tak jauh dari kediaman beliau di kompleks Masjid Al-Hurriyyah. Waktu itu, seperti biasa, beliau menyapa dengan hangat dan menanyakan kabar keluarga. Bahkan anak-anakku, Hassan dan Ridho, tak luput dari perhatian beliau. Maryam, yang lahir kemudian, pun sempat beliau jumpai.

Ada begitu banyak kenangan bersama beliau—kisah tentang mobil pertamanya yang diberikan oleh seorang murid, tentang nasihat-nasihatnya, bahkan tentang canda kecil yang tak lekang dari ingatan. Suatu kali, saya pernah bertanya:

“Ustadz, dalam Al-Qur’an disebutkan Allah memberi kebaikan yang banyak kepada orang yang bijak. Bagaimana sebenarnya orang bijak itu menurut Allah?”

Beliau menjawab panjang lebar, namun intinya sederhana: orang bijak adalah mereka yang menyesuaikan segala sesuatunya dengan Al-Qur’an. Jawaban itu, sampai kini, masih terpatri di hati saya.


Jejak dalam Kenangan Murid-Muridnya

Rekan-rekan marboth pun banyak menyimpan kenangan serupa.

  • Nur Fauzan masih mengingat pesan beliau saat lulus tahun 2007: “Dimanapun berada, jangan tinggalkan dakwah tarbiyah.”

  • Sobri mengenang saat-saat sederhana duduk di tangga, berbincang santai sambil memijat beliau.

  • Ady Suhendra berkata singkat, “Kebaikan-kebaikan beliau tak terkatakan.”

  • Purwanto menuturkan, “Pasukan marboth paling cepat bergerak kalau sudah dipanggil ke rumah beliau.”

  • Jumadi masih tersenyum mengingat momen makan bersama kiriman kepala sapi, dengan almarhum bercanda ringan di pelataran masjid.

  • Dadan menegaskan, “Kita semua bersaksi bahwa beliau orang baik. Semoga Allah masukkan beliau ke dalam golongan orang-orang yang dirindukan surga-Nya.”

Begitulah, setiap murid menyimpan serpihan cahaya dari sosok Ustadz Syam.


Sebuah Perpisahan

Bagi kami, Ustadz Syam bukan hanya seorang ustadz, tetapi ayah, penuntun, sahabat, dan teladan. Banyak hal yang kami pelajari dari beliau: dari hal besar seperti tafsir Al-Qur’an hingga cerita sederhana penuh gurau.

Kini beliau telah berpulang, kembali ke sisi Allah. Kami merasa kehilangan, namun kami yakin beliau telah memperoleh tempat mulia di sisi-Nya.

Selamat jalan, Ustadz Syam. Semoga Allah menempatkanmu di surga yang luas, di antara para syuhada dan shalihin. Semoga engkau tersenyum dalam balutan rahmat Allah, sebagaimana engkau selalu tersenyum kepada kami semasa hidup.

Fataqabbal minna… Rabbighfir lanaa…




 www.tedigumelaran.blogspot.com

 

Jumat, 01 Agustus 2025

RINDU RUMAH


Sudah hampir seminggu aku tak pulang. Rindu itu mengendap di dada, menggumpal tiap kali pandanganku jatuh pada kunci rumah yang kusimpan di saku jaket. Kunci kecil itu, sepotong logam yang mengantarku pada dunia yang paling nyaman: rumah.

Rumah kecil, tapi lapang di hati. Di dalamnya ada tawa istri, ada riang anak, ada kehangatan yang tak tertandingi oleh tempat mana pun di dunia ini. Pernah dulu aku bermimpi menjelajah, menjejakkan kaki di tanah-tanah asing, menghirup udara dari negeri yang jauh. Aku ingin mendaki gunung-gunung tinggi, melihat matahari terbit dari puncaknya. Aku ingin melangkah di lorong-lorong bersejarah, menapaki jejak para leluhur. Aku ingin menyeberangi laut, bertemu orang-orang dari negeri seberang.

Tapi baru sampai Bandung saja, hatiku sudah berat. Kunci rumah ini seakan berbisik, memanggil-manggilku pulang.

Ah, rumah. Ada kebahagiaan yang tak bisa kutemukan di luar sana. Di luar rumah, aku bertemu kesusahan. Di warung, di jalanan, di tengah hiruk-pikuk dunia. Lalu, saat aku kembali, aku membawa secuil kisah dari luar, membagikannya kepada istri dan anak. Dan sebaliknya, segala lelah dan duka yang melekat di tubuhku, kularutkan dalam kehangatan rumah. Seolah-olah rumah adalah tempat penyucian, tempat segala beban luruh menjadi kelegaan.

Rumahku sederhana, didominasi warna putih. Dinding-dindingnya putih, pintu-pintunya putih, jendelanya pun putih. Aku ingin hati ini pun seputih itu, sebersih itu. Tapi noda tetap saja ada, bercak-bercak samar yang sulit dihapus. Namun bukankah putih masih tetap dominan? Maka biarlah, kelak akan kuperbarui lagi, akan kupoles lagi, hingga rumah ini tetap bercahaya, seperti hatiku yang selalu ingin kembali kepada kebaikan.

Saat ini, aku hanya bisa menitipkan rumah itu kepada Tuhan. Menitipkan kehangatannya, kebahagiaan di dalamnya, serta orang-orang yang kucintai. Sementara aku jauh, sementara kunci ini masih erat dalam genggamanku. Semoga tak jatuh, semoga tak hilang. Sebab kehilangan kunci berarti kehilangan jalan menuju rumah. Kehilangan cara untuk kembali ke tempat di mana aku merasa paling utuh.

Aku ingin pulang. Ingin kembali merasakan damainya duduk di ruang tamu, mendengar canda istri dan tawa anak, merasakan bahwa di sinilah segala pencarian berakhir. Bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, rumah selalu menjadi tempat yang paling ingin kudatangi lagi.

Mungkin ini hikmahnya. Mungkin aku tak perlu bermimpi terlalu jauh. Dunia ini luas, tapi rumah pun sudah seluas dunia. Segala keindahan sudah ada di dalamnya. Kesusahan telah dibuang ke luar, yang tersisa hanyalah kasih sayang dan kegembiraan.

Ya Tuhan, izinkan aku segera pulang.
Karena rumah adalah tempat yang paling ingin kutuju, selalu.