Perjalanan, Kepulangan, dan Bekal Kehidupan
Cerita Bedolan Pamarayan 17 Oktober 2026
Janganlah lupa, apabila hendak bepergian, pikirkanlah pula bagaimana kelak akan pulang. Dengan kendaraan apa, bersama siapa, dan pada pukul berapa perjalanan itu akan berakhir. Jangan hanya bergembira ketika berangkat, lalu kebingungan ketika hendak kembali. Sebab, kesenangan yang sempurna bukan semata-mata ketika kita sampai di tempat tujuan, melainkan juga ketika kita dapat pulang dengan selamat, membawa pengalaman, dan menyimpan kenangan yang baik di dalam hati. Begitulah kehidupan ini. Manusia senang berjalan, berkunjung, bergaul, bekerja, dan menikmati keramaian dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita dan memberi kesempatan untuk menjalani perjalanan yang panjang ini. Dunia terasa terang benderang, penuh warna dan perjumpaan. Ada orang-orang yang datang, ada yang pergi, ada yang duduk bersama kita untuk sekadar berbincang, dan ada pula yang hanya sebentar singgah, tetapi meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang. Kita bersosialisasi, mencari nafkah, membangun persahabatan, menyelesaikan pekerjaan, dan merasakan berbagai kenikmatan yang Allah hamparkan di sepanjang jalan. Namun, di tengah kesibukan itu, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memikirkan perjalanan pulang yang sesungguhnya? Sebab, pulang yang paling hakiki bukanlah kembali ke rumah setelah bepergian, bukan pula turun dari kereta lalu melangkah menuju tempat tinggal. Pulang yang sebenarnya ialah kembali menghadap Allah, Tuhan yang menciptakan kita. Lalu, bekal apakah yang telah kita siapkan untuk perjalanan itu? Adakah kebaikan yang kita bawa, adakah amal yang dapat kita harapkan, dan adakah rahmat Allah yang kita mohonkan? Dalam perjalanan dunia, kita dapat membeli tiket dengan uang dan memilih kendaraan sesuai kemampuan. Akan tetapi, untuk perjalanan akhirat, bekal yang kita harapkan adalah iman, amal saleh, kebaikan kepada sesama, serta rahmat dan kasih sayang Allah. Maka, selagi perjalanan ini masih berlangsung, janganlah kita terlalu asyik menikmati pemandangan sampai lupa mempersiapkan kepulangan.
Pagi itu, Sabtu, 17 Oktober 2026, aku berkeinginan pergi ke Pamarayan untuk menyaksikan Bedolan Pamarayan. Hampir enam tahun acara itu tidak terselenggara, dan selama menjalankan tugas sebagai penyuluh perikanan di Kabupaten Serang, aku belum pernah sekalipun menyaksikannya secara langsung. Ada rasa penasaran yang tumbuh dalam hati. Bagaimanakah sesungguhnya suasana acara yang telah lama dinanti-nantikan masyarakat itu? Malam sebelum pelaksanaan bedolan, menurut kabar yang kudengar, telah digelar pertunjukan wayang di lapangan dekat bendungan. Ada pula doa bersama, memohon agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar, dijauhkan dari musibah, dan tidak menimbulkan korban. Di balik kemeriahan sebuah pesta rakyat, rupanya tersimpan pula harapan dan kecemasan manusia yang ingin semuanya berjalan dengan selamat. Aku kemudian memesan tiket kereta untuk keberangkatan pukul 11.04. Sayangnya, karena terlalu memikirkan tujuan perjalanan, aku lupa memesan tiket pulang. Barulah kemudian aku mendapatkan tiket untuk perjalanan kembali sekitar pukul 19.20. Alhamdulillah, masih ada tempat untukku pulang. Aku pun tidak perlu terlalu khawatir memikirkan bagaimana mengakhiri perjalanan hari itu. Justru dengan jadwal kepulangan yang cukup malam, aku memiliki kesempatan untuk menyaksikan lebih banyak hal di Pamarayan. Sesampainya di sana, aku melihat keramaian yang begitu besar. Ribuan orang tampaknya terlibat atau datang untuk menyaksikan acara tersebut. Lapangan dipenuhi stan pameran, tempat berjualan, panggung utama, dan tenda-tenda yang berdiri melengkapi suasana. Orang-orang datang bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman lama. Ada yang hendak berbelanja, ada yang ingin menyaksikan acara, ada yang menjadikan kesempatan itu sebagai ajang reuni, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati suasana yang telah lama dirindukan. Aku membayangkan betapa banyak cerita yang tersimpan di balik keramaian itu. Mungkin ada orang yang telah bertahun-tahun tidak bertemu sahabatnya, lalu kembali berjumpa di tempat yang sama. Mungkin ada anak yang datang bersama orang tuanya untuk pertama kali, sementara bagi orang tuanya, bedolan merupakan kenangan masa muda yang akhirnya dapat dinikmati kembali. Alhamdulillah, aku pun menjadi bagian kecil dari peristiwa itu. Bukan sebagai penyelenggara atau tokoh penting, melainkan sebagai seorang yang ingin melihat, belajar, dan mensyukuri kesempatan yang diberikan Allah.
Akan tetapi, di balik kemeriahan itu, perjalanan menuju terselenggaranya Bedolan Pamarayan ternyata tidak sepenuhnya mudah. Sempat beredar kabar bahwa acara tersebut dibatalkan karena beberapa rumah yang berada di tepi sungai terancam longsor. Pada mulanya, acara direncanakan berlangsung tanggal 10 Oktober, tetapi rencana itu tidak terlaksana. Masyarakat yang telah lama menunggu kemudian menyampaikan aspirasi, bahkan melakukan demonstrasi di depan kantor BBWS. Aku tidak mengetahui seluruh pertimbangan teknis yang mendasari persoalan tersebut, tetapi dapat membayangkan betapa besar harapan masyarakat yang telah menantikan acara ini hampir enam tahun lamanya. Bagi sebagian orang, mungkin bedolan hanyalah sebuah acara tahunan. Namun, bagi masyarakat Pamarayan dan sekitarnya, ia dapat menjadi lebih daripada itu: ruang perjumpaan, kenangan bersama, kebanggaan kampung halaman, dan kesempatan menghidupkan kembali tradisi yang telah lama dinanti. Karena itu, ketika akhirnya acara terlaksana pada Sabtu, 17 Oktober 2026, suasananya terasa istimewa. Masyarakat berbondong-bondong datang menuju bendungan. Antusiasme mereka tampak dalam setiap sudut keramaian. Orang-orang menyaksikan pengangkatan ikan dari sungai, termasuk ikan caung, nila, dan emas yang disebut-sebut terdapat di perairan tersebut. Ada sorak kegembiraan, percakapan yang bersahut-sahutan, dan wajah-wajah yang menunjukkan rasa senang karena akhirnya dapat menyaksikan kembali peristiwa yang telah lama dinantikan. Aku memandang semua itu dengan perasaan syukur. Betapa berharganya sebuah kesempatan yang tidak selalu datang setiap tahun sebagaimana yang kita harapkan. Kadang-kadang, sesuatu baru terasa istimewa setelah lama tidak kita jumpai. Begitu pula dengan pertemuan, pekerjaan, kesehatan, bahkan kesempatan untuk sekadar keluar rumah dan menyaksikan kehidupan masyarakat. Selama ini kita mungkin menganggap semua itu biasa. Namun, ketika kesempatan tersebut tertunda bertahun-tahun, barulah kita mengerti bahwa tidak setiap keinginan dapat segera diwujudkan. Ada proses yang harus dilalui, ada persoalan yang perlu diselesaikan, dan ada kesabaran yang harus dijaga. Aku bersyukur dapat menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat berkumpul dalam suasana yang meriah. Semoga tradisi dan kebersamaan seperti ini terus terpelihara dengan memperhatikan keselamatan warga dan kelestarian lingkungan. Sebab, kegembiraan yang baik bukan hanya kegembiraan yang dirasakan hari ini, melainkan juga yang meninggalkan kebaikan bagi hari esok.
Di sela-sela kunjungan itu, aku menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah Pak Umar. Aku sempat memikirkan hendak menghubungi Pak Caram atau mampir ke tempat lain, tetapi akhirnya langkahku membawaku ke rumah beliau. Sesampainya di sana, aku membuat kopi sendiri, kemudian disuguhi ranginang yang renyah. Sederhana sekali, tetapi justru di dalam kesederhanaan itulah terkadang tersimpan kehangatan yang tidak dapat dibeli di tempat lain. Abah Umar kemudian bercerita tentang kejadian setelah kunjunganku sebelumnya bersama Pak Yogi. Katanya, pernah ada seekor ular panjang kira-kira satu meter di atas amben, tempat beliau biasa duduk. Aku terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, tempat yang biasa digunakan untuk duduk santai dan berbincang ternyata pernah menjadi tempat singgah makhluk yang tak disangka-sangka. Namun, ular itu rupanya sudah mati ketika ditemukan. Abah Umar menyampaikan berbagai cerita lainnya, dan aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Beliau adalah orang yang dituakan di lingkungannya, seseorang yang dihormati bukan hanya karena usia, melainkan juga karena kebiasaan dan ketekunannya menjalani kehidupan. Beliau rajin menunaikan salat lima waktu di masjid. Dalam percakapan kami, beliau juga menyampaikan pandangannya tentang amalan zikir *Qul huwallahu ahad* setelah salat, yang menurut beliau sangat utama. Dari percakapan sederhana itu, aku mendapatkan pelajaran bahwa silaturahmi tidak selalu harus disertai agenda besar atau pembicaraan yang berat. Kadang-kadang, cukup duduk bersama orang yang lebih tua, menikmati secangkir kopi, mendengarkan pengalaman hidupnya, dan mengambil hikmah dari hal-hal yang diceritakannya. Ada ilmu yang tidak selalu kita peroleh dari buku, tetapi tumbuh dari perjumpaan dengan manusia yang telah melewati banyak musim kehidupan. Sekitar pukul 17.30, aku berpamitan dari rumah beliau. Ada rasa senang karena telah menyempatkan diri bersilaturahmi, terlebih setelah seharian menyaksikan kemeriahan Bedolan Pamarayan. Hari itu aku memperoleh dua macam pengalaman: keramaian yang mempertemukanku dengan banyak orang dan ketenangan yang kudapatkan dari percakapan bersama seorang yang lebih tua. Keduanya memiliki keindahan sendiri. Keramaian mengajarkan betapa luas kehidupan manusia, sedangkan silaturahmi mengingatkan bahwa di tengah luasnya dunia, hubungan antarmanusia tetaplah sesuatu yang patut dijaga. Semoga Allah memberikan kesehatan dan keberkahan kepada Abah Umar serta semua orang yang telah kutemui hari itu. Semoga perjumpaan yang sederhana itu menjadi bagian dari kebaikan yang kelak dapat kubawa sebagai bekal ketika harus pulang menghadap-Nya.
Kini aku kembali menuju Stasiun Catang untuk naik kereta pukul 19.24 menuju Serang. Perjalanan hari ini hampir selesai. Aku telah melihat kemeriahan Bedolan Pamarayan, menyaksikan antusiasme masyarakat, dan menikmati hangatnya silaturahmi di rumah Abah Umar. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah memberiku kesempatan untuk berjalan-jalan, melihat kehidupan, dan bertemu dengan orang-orang yang membawa pelajaran bagi hati. Aku duduk di dalam kereta sambil berharap perjalanan ini berlangsung dengan selamat sampai tujuan. Dalam suasana seperti ini, pikiranku kembali kepada nasihat sederhana yang sejak awal menjadi renungan: kalau hendak pergi, jangan lupa memikirkan bagaimana pulangnya. Dalam urusan dunia, kita perlu memastikan kendaraan, jadwal, dan tujuan. Jangan sampai kegembiraan ketika berangkat membuat kita lupa mempersiapkan kepulangan. Akan tetapi, ada satu kepulangan yang jauh lebih penting daripada perjalanan kereta malam ini. Suatu hari kelak, setiap manusia akan menempuh perjalanan yang tidak dapat diwakilkan oleh siapa pun. Kita akan meninggalkan rumah, pekerjaan, jabatan, harta, dan segala keramaian dunia yang selama ini mengisi hari-hari kita. Pada saat itu, bukan lagi tiket kereta yang menjadi persoalan, melainkan bekal amal yang kita bawa dan rahmat Allah yang kita harapkan. Aku pun bertanya kepada diriku sendiri: jika perjalanan dunia saja perlu kupersiapkan dengan sungguh-sungguh, mengapa perjalanan akhirat terkadang justru kulupakan? Sudahkah aku memperbanyak kebaikan? Sudahkah aku menjaga salat, menghormati orang tua, menolong sesama, dan menunaikan amanah pekerjaan dengan sebaik-baiknya? Sudahkah aku meminta ampun atas kesalahan yang pernah kulakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu kujawab dengan kesombongan, sebab aku tahu betapa banyak kekurangan dalam diriku. Cukuplah pertanyaan itu menjadi pengingat agar aku tidak terlalu terlena oleh kesenangan dunia. Aku ingin menikmati kehidupan dengan penuh syukur, tetapi tidak sampai melupakan tujuan akhir. Aku ingin bekerja, bersilaturahmi, melihat tempat-tempat baru, dan merasakan kebahagiaan bersama manusia, tetapi juga ingin membawa pulang bekal yang baik ketika kelak kembali kepada Allah. Ya Allah, selamatkanlah perjalanan kereta ini hingga aku tiba di Serang. Selamatkan pula perjalanan hidupku hingga akhir hayat. Berikan aku hati yang pandai bersyukur, langkah yang senantiasa menuju kebaikan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum waktu berakhir. Jangan biarkan aku hanya sibuk mencari jalan pulang ke rumah, tetapi lupa mempersiapkan jalan pulang kepada-Mu. Semoga Engkau melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Mu, mengampuni segala dosa, serta mempertemukanku kembali dengan orang-orang yang kucintai dalam kebaikan dan rida-Mu. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar