Nikmat yang Sering Luput dari Syukur
Catang, 11 Oktober 2026 — Pukul 19.00
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, bahkan melalui hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian. Hari ini aku kembali merasakan betapa banyak kebaikan yang telah Allah hamparkan dalam perjalanan hidupku. Pagi dimulai dengan bangun tidur dan menunaikan salat Subuh di masjid. Ada ketenangan tersendiri ketika memulai hari dengan bersujud kepada-Nya, seolah-olah segala urusan yang menanti di hadapan telah kuserahkan lebih dahulu kepada Sang Pemilik kehidupan. Setelah itu, aku berangkat naik kereta menuju Catang. Dari sana, aku dibonceng Pak Caram menuju Kebon Cau, Pamarayan, untuk mendirikan kelompok perikanan yang baru. Di desa itu, aku bersilaturahmi dengan Pak Yogi, Pak Nadi, Pak Opi, Pak Ely, dan beberapa orang lainnya. Pertemuan itu bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan juga perjumpaan antarmanusia yang menyimpan kehangatan. Kami berbincang, bertukar cerita, dan makan siang bersama. Hidangan yang tersaji begitu sederhana: telur dadar, ikan asin, tumis tahu, kentang, dan beberapa lauk lainnya. Namun, di hadapan rasa lapar dan kebersamaan yang tulus, makanan sederhana itu terasa istimewa. Betapa sering manusia mengejar kenikmatan yang jauh, padahal Allah telah menyediakan begitu banyak kebahagiaan di dekatnya. Siang itu aku belajar kembali bahwa nikmat tidak selalu datang dalam kemewahan. Terkadang ia hadir melalui sepiring nasi, lauk sederhana, keramahan tuan rumah, dan kesempatan untuk bekerja sambil menjalin silaturahmi. Alhamdulillah, hari itu aku diberi kesehatan, perjalanan yang lancar, pekerjaan yang bermanfaat, dan pertemuan dengan orang-orang baik.
Setelah urusan di Kebon Cau selesai, aku kembali ke Catang. Aku beristirahat di musala stasiun sambil menunggu waktu berlalu. Tidak ada firasat apa-apa ketika itu. Aku hanya ingin merebahkan tubuh sejenak setelah menjalani aktivitas sejak pagi. Akan tetapi, rupanya ada satu perkara kecil yang luput dari perhatianku: kunci sepeda motor terjatuh dari saku jaket. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Baru ketika kereta telah bergerak menuju Serang, kesadaran itu datang seperti pintu yang tiba-tiba terbuka. Tanganku meraba saku, lalu mengulanginya sekali lagi, berharap kunci itu masih berada di tempat semula. Namun, yang kutemukan hanyalah kekosongan. Seketika pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika kunci itu tidak ditemukan? Bagaimana jika ada orang yang mengambilnya? Bagaimana jika motorku tidak bisa digunakan untuk pulang? Pikiran-pikiran itu datang bertubi-tubi, membentuk kecemasan yang semakin panjang. Aku tahu, persoalannya mungkin tampak sederhana bagi orang lain, tetapi ketika sesuatu yang penting tiba-tiba hilang, pikiran manusia sering kali berlari lebih cepat daripada kenyataan. Aku turun di Stasiun Serang dan berusaha melaporkan kehilangan itu. Sebelumnya, di dalam kereta, aku telah bertanya kepada petugas KAI yang bertugas di gerbong. Namanya Syahrul. Alhamdulillah, ia menanggapi dengan baik dan segera menghubungi pihak Stasiun Catang. Aku pun mengirimkan foto kunci motor sebagai petunjuk. Dalam keadaan seperti itu, perhatian kecil dari seseorang terasa begitu berarti. Di tengah kecemasan yang menguasai pikiran, masih ada orang yang bersedia membantu tanpa banyak bertanya, tanpa membuat persoalan terasa semakin berat. Aku mulai menyadari bahwa di balik setiap kesulitan, Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan manusia yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Alhamdulillah, kabar baik itu akhirnya datang: kunci motorku ditemukan di Stasiun Catang. Lega rasanya mendengar berita tersebut. Sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikiranku dengan berbagai kecemasan ternyata tidak berakhir seburuk yang kubayangkan. Namun, ada satu hal yang harus kuterima: kunci itu tidak dapat dibawa oleh kereta berikutnya ke Serang. Aku harus kembali sendiri ke Catang untuk mengambilnya. Tidak mengapa, pikirku. Setidaknya kunci itu telah ditemukan, dan aku tidak perlu membeli tiket kereta lagi untuk mengurus persoalan tersebut. Terima kasih, KAI, atas bantuan dan pelayanan yang diberikan. Terima kasih, Pak Yogi dan Pak Caram, yang telah menjadi bagian dari perjalanan hari ini. Terima kasih pula kepada Pak Imam, Pak Ghalih, dan semua pihak yang membantu di Stasiun Catang maupun Stasiun Serang. Mungkin bagi mereka, pertolongan itu hanyalah pekerjaan biasa atau kebaikan kecil yang segera terlupakan setelah hari berganti. Namun, bagiku, semua itu adalah bagian dari nikmat Allah yang patut dicatat dalam ingatan. Aku sempat terlalu jauh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Padahal, kenyataan belum tentu seburuk prasangka. Saat kecemasan mulai menguasai diri, aku teringat bahwa hidup ini tidak akan menjadi lebih ringan hanya karena kita terus-menerus mengkhawatirkan segala kemungkinan. Ada perkara yang memang harus diusahakan, ada yang harus diselesaikan dengan ikhtiar, dan ada pula yang pada akhirnya mesti diserahkan kepada Allah. Ketika waktu menunjukkan pukul tiga lewat, aku menunaikan salat Asar di Stasiun Serang. Di tengah kesibukan orang-orang yang datang dan pergi, aku berhenti sejenak untuk menghadap kepada-Nya. Barangkali inilah salah satu pelajaran hari ini: di tengah urusan dunia yang terkadang membuat hati gelisah, manusia selalu memiliki tempat untuk kembali. Aku tidak harus mengetahui seluruh jawaban saat itu juga. Aku hanya perlu berusaha, berdoa, dan belajar menerima apa yang belum dapat kukendalikan.
Di antara perjalanan kereta, kehilangan kunci, dan pertolongan orang-orang baik, pikiranku kemudian sampai pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perkara yang sedang kuhadapi. Aku teringat bahwa belumlah sempurna keselamatan hidup seseorang hanya karena ia terbebas dari kesulitan dunia. Keselamatan yang sesungguhnya adalah ketika kelak Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga. Ah, betapa jauh perjalanan menuju ke sana, dan betapa banyak kekurangan yang masih melekat pada diriku. Aku bukan manusia tanpa kesalahan. Ada ucapan yang mungkin pernah melukai, ada sikap yang mungkin pernah mengecewakan, ada kewajiban yang belum kutunaikan dengan sebaik-baiknya, dan ada kesempatan berbuat baik yang mungkin pernah kulewatkan. Namun, ketika menengok kehidupan hari ini, aku juga melihat begitu banyak orang baik yang Allah tempatkan di sekelilingku. Mereka hadir dalam bentuk yang sederhana: seseorang yang memberikan tumpangan, seseorang yang menerima kedatangan dengan ramah, seseorang yang mengajak makan bersama, seorang petugas yang bersedia menghubungi stasiun lain, dan orang-orang yang membantu tanpa mengharapkan balasan. Jika dunia ini saja telah memberiku begitu banyak kebaikan, bagaimana mungkin aku berputus asa dari rahmat Allah untuk kehidupan akhirat? Tentu saja, aku tidak boleh menjadikan nikmat dunia sebagai jaminan bahwa surga pasti menjadi bagianku. Surga adalah karunia Allah yang harus diharapkan dengan iman, amal saleh, dan rahmat-Nya. Karena itu, aku ingin belajar mensyukuri apa yang telah ada, memperbaiki apa yang masih kurang, dan memohon agar segala kesalahan diampuni oleh-Nya. Aku ingin masuk surga bersama orang-orang yang kucintai, bersama keluarga dan orang-orang terdekat, dalam keadaan Allah meridai kami. Semoga Allah menambahkan nikmat-Nya di dunia, memberkahi setiap langkah yang kujalani, mengampuni dosa-dosaku, dan menganugerahkan kebaikan di akhirat kelak. Ya Allah, jangan biarkan kenikmatan yang Engkau berikan membuatku lalai dari mengingat-Mu. Jadikanlah ia jalan untuk semakin dekat kepada-Mu, bukan alasan untuk merasa bahwa aku telah cukup baik. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Malam telah turun ketika aku kembali berada di Stasiun Catang. Hujan deras mengguyur tempat itu, membasahi tanah dan membuat udara malam terasa berbeda dari siang tadi. Beberapa jam sebelumnya, kawasan Serang terasa sangat panas, seolah matahari enggan beranjak dari puncaknya. Kini, hujan datang membawa suasana yang teduh, sementara aku duduk dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada ketika pertama kali menyadari kunci motorku hilang. Alhamdulillah, kunci motor itu kini sudah berada di saku celanaku. Sesekali aku merabanya, memastikan bahwa benda kecil yang tadi sempat membuat pikiranku berkelana ke mana-mana benar-benar telah kembali ke tempatnya. Betapa lucunya manusia. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa, yang bahkan jarang disadari keberadaannya, mendadak menjadi sangat berharga ketika hilang. Begitu pula dengan banyak nikmat dalam hidup: kesehatan, waktu, pekerjaan, keluarga, persahabatan, dan kesempatan untuk beribadah. Sering kali kita baru benar-benar merasakan nilainya setelah hampir kehilangan atau ketika Allah mengingatkan kita melalui suatu kejadian. Malam ini, di tengah hujan deras di Stasiun Catang, aku tidak ingin menutup hari hanya dengan mengingat kecemasan yang tadi sempat menguasai diri. Aku ingin mengingat pertolongan yang datang, orang-orang yang berbuat baik, makanan sederhana yang kunikmati, salat yang kutunaikan, dan kesempatan untuk pulang dengan hati yang lebih lapang. Terima kasih, ya Allah, untuk hari yang penuh pelajaran ini. Terima kasih karena Engkau mempertemukanku dengan orang-orang baik dan mengajariku bahwa tidak semua kekhawatiran harus diikuti sampai ke ujungnya. Ada saatnya manusia cukup berikhtiar, lalu menyerahkan sisanya kepada-Mu. Semoga esok aku masih diberi kesempatan untuk bangun, bersujud, bekerja, bersilaturahmi, dan melakukan kebaikan sekecil apa pun. Semoga nikmat yang bertambah membuat syukurku bertambah, bukan kelalaianku. Dan semoga perjalanan panjang di dunia ini akhirnya mengantarkanku menuju perjalanan yang paling kuharapkan: pulang kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridai, lalu berkumpul di surga bersama orang-orang yang kucintai. Aamiin. Alhamdulillah. Terima kasih, Tuhan, untuk segala nikmat yang sering kali baru kusadari setelah Engkau mengingatkanku.