Minggu, 20 April 2025
Sholat Menampung Rasa
Rabu, 26 Februari 2025
mungkin Masjid Al-Ukhuwah akan ngomong kaya gini :) :
Makasih yaa,
Udah sapuin sampah sampah dihalaman
Udah lap kaca jendela
Udah sikat, pel lantai masjid
Udah siram dinding
Udah pasang speker
Udah gosok lantai toilet
Udah pasang lampu
Udah pasang kanopi
Udah bawa makanan dan minuman
Udah londri mukena
Udah beli karpet baru
Udah kasih wangi wangian
Udah cuci terpal
Udah sapu lantai
Udah perbaiki kapstok
Udah sedot debu di karpet
Udah kuras toren
Udah pasang konblok
Udah perbaiki kipas angin
Udah jemur keset
Udah cabut rumput
Udah perbaiki sound system
Udah pasang kipas angin baru
Udah perbaiki kran air
Udah perbaiki lampu wc
Udah bersihin gudang
Udah pasang fiber
Udah sanctify My House
Udah berbuat banyak hal baik untuk masjid
Fataqobbal minnaa
Terimalah ibadah kami
Shollu alannabii
Allahumma sholli wa sallim wa baarik alaih
Www.tedigumelaran.blogspot.com
Selasa, 04 Februari 2025
Kekejaman di Luar Nalar: Tragedi di Palestina
Pendahuluan
Rabu, 29 Januari 2025
Langkah, Rindu dan Perjalanan yang Tak Usai
Gunung selalu punya cara untuk memanggil kembali
orang-orang yang pernah mendakinya. Entah kenapa, belakangan ini aku begitu
ingin bertemu kembali dengan teman-teman pendakian Semeru tahun 2014. Mungkin
ada sesuatu yang membuat perasaan ini muncul.
Aku masih ingat betapa serunya perjalanan itu.
Teman-teman yang saling membersamai dalam satu tujuan, saling menyemangati,
saling melindungi, dan tentu saja, saling bercanda. Itulah yang membuat
perjalanan mendaki gunung tidak hanya sekadar mencapai puncak, tapi lebih
kepada menikmati prosesnya bersama orang-orang yang sefrekuensi. Hobi ini
memang seperti candu, tidak akan pernah ada habisnya. Aku masih menyimpan
tenda, sleeping bag, dan perlengkapan lainnya. Gunung masih tetap ada di
tempatnya, tetapi kenangan mendaki bersama mereka, itu yang tidak akan pernah
hilang.
Aku pernah bertemu lagi dengan Cak Dany pada
tahun 2018 saat kami berpapasan di jalur pendakian Semeru. Waktu itu, meskipun
hanya sebentar, perasaan nostalgia langsung menyeruak. Rasanya seperti kembali
ke tahun 2014, ketika kami pertama kali mendaki bersama.
Beberapa waktu lalu, aku begitu ingin bertemu
mereka lagi. Mungkin karena rindu suasana kebersamaan itu. Kebetulan, Pak Dewan
memposting foto di grup alumni Semeru 2014 bahwa mereka sedang dalam perjalanan
ke Jakarta untuk menghadiri Mubes ODOJ 3. Saat itu aku baru saja membuka
jahitan pascaoperasi pada hari Sabtu, dan sempat merasa khawatir jika luka ini
bermasalah. Namun, keinginan untuk bertemu mereka lebih besar. Kamal merespons
ajakan di grup dan mengajak untuk ngopi di Elits Café Gambir, sebuah kafe milik
warga Gaza di Indonesia. Pak Kunt juga merespons dan ingin bertemu dengan Cak
Dany dan Pak Dewan. Akhirnya, kami sepakati untuk bertemu di sana.
Kamal tidak bisa jadi bertemu di kafe, akhirnya
kami bertemu di sekretariat ODOJ di Pasar Minggu. Alhamdulillah, akhirnya aku
bisa bertemu mereka. Pertemuan itu penuh canda tawa, obrolan panjang, dan
nostalgia yang menghangatkan hati
Ini adalah kali kedua aku ke sekretariat ODOJ.
Bertemu dengan banyak teman-teman ODOJ dari berbagai daerah, termasuk dari DPA
Jateng dan DPA Ciamis, membuat suasana semakin akrab. Aku merasa senang bisa
berada di tengah komunitas ini lagi.
Sekitar pukul 17.00, Cak Dany dan Pak Dewan pamit
untuk kembali ke Surabaya. Aku pun kembali ke Serang, naik KRL lalu menyambung
dengan kereta lokal Rangkas-Merak. Dalam perjalanan pulang, aku masih terbawa
euforia pertemuan tadi. Rasanya seperti kembali ke masa-masa pendakian, saat
kami saling membantu, bercanda, dan menikmati setiap langkah perjalanan.
Rasanya ingin mendaki Semeru lagi. Entah bersama
siapa kali ini. Cak Ipang, Dokter Irsyad, Sujay, Alfian, Rodi, dan lainnya?
Tapi kini, batas pendakian hanya sampai Ranu Kumbolo. Mahameru belum bisa
didaki lagi. Lalu, apa sebenarnya yang dicari dari mendaki gunung? Di puncaknya
hanya ada hamparan pasir. Capek? Jelas. Keluar uang? Iya. Letih? Pasti. Lalu,
kenapa tetap ingin naik gunung?
Mungkin karena perjalanan itulah yang kita
rindukan. Kebersamaan dengan teman-teman pendakian. Momen ketika kita saling
menjaga, saling menguatkan, dan berbagi tawa di tengah dinginnya alam. Mungkin
itulah pelajaran terbesar dari mendaki gunung: bahwa dalam hidup, kita harus
saling membantu dan menolong.
Lalu, apa selanjutnya? Ya, jalani saja dengan
sabar. Banyak hal dalam hidup yang tidak kita mengerti. Syukuri apa yang ada,
karena hidup adalah anugerah. Ketika ada kesulitan, bersabarlah. Terima kasih
Tuhan, untuk perjalanan ini dan untuk teman-teman yang selalu ada.
Sabtu, 25 Januari 2025
Pengalaman di RS Jannah Serang
Pengalamanku di RS Jannah ini benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Aku
baru saja menjalani operasi untuk mengangkat tumor di dada. Operasi ini
dilakukan oleh dr. Nano dan timnya. Hari ini, Sabtu, 25 Januari 2025, adalah
momen di mana jahitan operasiku dibuka langsung oleh dr. Nano Isdiyanto, Sp.B. Alhamdulillah,
semuanya berjalan lancar. Aku hanya bisa berdoa semoga kesehatanku selalu
terjaga. Aamiin.
Momen ini mengingatkan aku pada dua minggu lalu, saat operasi pertama kali
dilakukan. Mamah yang setia mengantarku waktu itu. Saat itu, Idho, anakku, baru
saja selesai sunat. Syukurlah, dia cepat pulih. Tapi, meninggalkan Hassan dan
Maryam bukan pilihan yang mudah. Semua anak membutuhkan perhatian, aku dan
istri harus saling membantu.
RS Jannah ini terbilang baru, usianya baru sekitar satu tahun. Tapi aku
merasa tempat ini akan berkembang pesat. Kebersihan dan kerapian rumah sakit
ini menciptakan suasana yang nyaman. Para dokternya aktif menjelaskan kondisi
pasien dengan sangat detail. Aku merasa sangat dihargai sebagai pasien.
Namun, momen paling berkesan adalah saat aku memasuki ruang operasi. Itu
pertama kalinya aku masuk ruang operasi. Ada perasaan pasrah luar biasa. Aku
tahu aku akan dibius total, dan pikiranku mulai memikirkan hal-hal yang aneh.
"Apakah aku akan hidup kembali?" "Bagaimana jika aku tidak
bangun?" Pikiran-pikiran seperti itu terus berputar di kepala.
Mamah setia menemaniku. Dia mengantar sampai ke pintu ruang operasi,
menungguku di luar, dan tetap berada di sana sampai aku sadar sepenuhnya. Aku
melihat bagaimana mamah menyeka wajahku dengan lembut, seperti saat aku masih
kecil. Perhatian dan kasih sayangnya benar-benar tak tergantikan. Aku merasa
seperti bayi lagi, disuapi, dirawat, bahkan ditemani saat aku belum bisa
bergerak dengan bebas. Terima kasih banyak, Mamah. Semua ini tidak akan pernah
cukup untuk membalas jasamu.
Di ruang operasi, ada sekitar lima orang yang aku lihat, meski aku tidak
menghitungnya dengan pasti. Suasana dibuat santai. Mereka bercanda, mungkin
untuk mengurangi ketegangan. Salah satu dari mereka bertanya, "Puasa ya,
Pak? Senin Kamis?" Aku tersenyum kecil meski tetap tegang. Aku memang
sudah berpuasa hampir tujuh jam sebelum operasi. Mereka memintaku naik ke
tempat tidur operasi dan menggeser sedikit posisiku ke atas. Setelah itu,
mereka mulai memasang alat di jari-jari tanganku.
Dokter anestesi mendekat dan dengan lembut berkata, "Baca Al-Fatihah,
Pak, Ayat Kursi, dan sholawat." Kata-katanya itu menenangkan sekali. Aku
memegang perut dan berdoa dalam hati. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa
lagi. Ketika sadar, aku sudah berada di kamar perawatan.
Aku sangat ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter anestesi itu.
Kata-katanya yang mengingatkanku untuk berzikir sebelum "tidur
panjang" sangat berarti bagiku. Aku tidak tahu siapa namanya, tapi aku
ingin dia tahu betapa aku bersyukur atas itu. Mengingat Allah sebelum operasi
adalah pengalaman yang begitu menenangkan dan membekas di hati. Aku jadi
merenung, bagaimana akhir hidupku kelak? Jika bisa seperti itu, berzikir
sebelum pergi, tentu sangat indah. Semoga kita semua diberikan kebiasaan baik
selama hidup agar akhir hayat kita pun baik. Aamiin.
Aku juga tidak lupa berterima kasih kepada istriku yang luar biasa. Dia
merawat lukaku dengan penuh kasih sayang, mengganti perban, memberiku makan,
mencucikan bajuku, dan melakukan semuanya dengan sabar. Tidak ada yang bisa
menandingi kebaikannya. Aku benar-benar bersyukur memiliki dia di hidupku.
Aku dirawat di ruang VIP rumah sakit ini. Sebenarnya, sesuai BPJS, aku
seharusnya dirawat di kelas 1. Tapi karena kelas 1 penuh, aku ditempatkan di
ruang VIP. Alhamdulillah, ruangan ini nyaman, dengan fasilitas seperti TV dan
kulkas. Rasanya seperti berada di rumah sendiri.
Di sini, aku juga bertemu dengan seorang pasien bernama Pak Asep Mulyana.
Beliau sempat menjengukku setelah operasiku selesai. Kami mengobrol panjang
lebar, dan beliau memberikan banyak nasihat baik. Terima kasih, Pak Asep, atas
kebaikan dan perhatiannya.
Tidak lupa, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para perawat di
ruang 203 VIP RS Jannah, terutama dr. Hodijah dan dr. Y. Hidayati di klinik
jannah 2, serta para pegawai lainnya seperti petugas administrasi, cleaning
service, satpam, dan tukang parkir. Semua bekerja dengan penuh dedikasi dan
membuatku merasa nyaman selama di sini.
Pengalaman ini mengajarkanku banyak hal. Tentang bersyukur, tentang
pentingnya keluarga, dan tentang ketenangan yang datang dari zikir. Terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantuku melalui proses ini. Semoga Allah
membalas kebaikan kalian semua. Aamiin.
www.tedigumelaran.blogspot.com
Jumat, 20 Mei 2022
Baduy, Tawazun Tribe
Baduy 14/15 Mei 2022
Dalam hidup banyak keseimbangan terjadi begitu saja, tanpa harus kita usahakan, kondisi seimbang sudah dibuat oleh Tuhan. Lalu kita ngapain? enjoy aja. Nikmatin semua yang Tuhan beri ke kita. Seperti 3 hari yang lalu, sepertinya aku harus jalan-jalan, dan Baduy jadi destinasinya. Jam 7.30 WIB pagi, tanggal 14 Mei itu, aku sudah cao’ dari rumah. Pesan go-jek. Datang. Kurang lebih 15 menit kemudian Aku sudah di Stasiun Kereta Api Karangantu Serang. Udah gatal tangan, ingin bikin status. Entah di WA, FB atau IG tapi, satupun nggak aku buat status. Aku ingin nikmatin perjalanan ini. Sebuah perjalanan menuju orang-orang yang ‘mewah’ hati dan jiwanya. Dalam gambaran fikirku, sudah tertanam sepertinya kemarin itu, sebelum OTW ke baduy, dalam otakku, bahwa orang-orang baduy ini, ‘kaya’ banget hati dan jiwa mereka. Entah mengapa, leluhur-leluhur mereka mengasingkan diri sedemikian rupa, jauh dari peradaban, mencari sesuatu hal yang hakiki mungkin sifatnya. Kedamaian, ketenangan, jauh dari hiruk pikuk kepenatan kehidupan kita yang ramai. Entahlah, aku nggak tahu. Masih banyak sepertinya hal yang belum ku ketahui dari suku Baduy di Cibeo Lebak Banten ini.
Pas jam 9.13 WIB saya tiba di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Open trip kurang lebih 22 orang. Kami sudah bergabung di grup WA. Satu persatu peserta Open trip konfirmasi kedatangan ke Om Morgan, guide kami saat trip ini. Ibu-ibu, cewe-cewe, putri-putri, berangkat dari Stasiun Rangkas dalam satu mobil elf. Kami, bapak-bapak, cowo-cowo, 7 orang dalam satu angkot. Perjalanan dimulai kurleb jam 9.45 menuju terminal Ciboleger. Ternyata ramai saat itu, mungkin karena weekend yang tambah satu hari, jadi banyak wisatawan yang berlibur kesini.
Indah sekali kehidupan suku baduy ini rumah-rumah bilik kayu panggung tersusun rapih.. suasana alami terasa sekali menyelimuti hidup mereka. Damai, tentram, sungai-sungai yang airnya bersih jernih ada disekitar mereka. Aku jadi pengen nyebur di sungai itu, yang akhirnya kesampaian juga mandi di sungai, setelah sore, hampir jam 17.30, sesampainya di baduy dalam di Cibeo, dibelakang perkampungan mereka. Segar badan, setelah kurang lebih 5 jam perjalanan menuju kampung baduy dalam ini. Alam yang indah terbentang, hutan hujan tropis masih alami disini..keringat keluar.. segar ke badan dan otak.
Jalan-jalan kali ini, aku sepertinya berada dalam kaum milenial. seperti Bale, Hendi, Kausar, Dinda Gita dll.. tapi kocak mereka itu.. berkali-kali aku pengen ketawa lepas..mendengar ungkapan-ungkapan mereka di perjalanan yang lumayan jauh melelahkan ini. Seperti yang kuingat ada kalimat..”kalo gw punya 9 nyawa, kayanya setengahnya udah ilang..” saking capenya mungkin udah mau mati kali ya hehe peace.
“patah kaki.. patah tangan” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Mungkin kaum milenial lebih mudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan.. aku sih pengen ketawa, tapi dalam hati aja walau kadang akhirnya lepas juga…ngga ketahan ketawa..
Lalu akhirnya aku juga becanda dikit-dikit. Seorang ibu anggota trip, paruh baya mengira saya teroris yang mau sembunyi di baduy.. aku ketawa lepas aja..bha ha ha.. tampilan wajahku sepertinya yang belum cukur jenggot dan jambangku …lagi belum sempet aja.. pas sepertinya kalo untuk hari jum’atnya tanggal 13 mei kemarin itu…aku diminta isi khutbah jum’at di perum puri cempaka serang. Khutbah jum’at pertama kalinya seumur hidup aku..
Saya menikmati cara suku baduy dalam menjaga alam yang sudah Tuhan beri, meraka patuh banget menurutku kepada Tuhan. Atas alam yang mereka terima..alam yang segar indah..pegunungan hijau, menjulang pohon tinggi, air sungai yang bersih, bening, kehidupan yang sederhana..manunggal mereka dengan alam raya, jauh dari kebisingan hidup duniawi, yang sepertinya tak pernah puas mengejar materi belaka.
Aku sempat bertanya ke Kang Jali, kemungkinan menginap dan tinggal beberapa hari di suku baduy dalam ini, tapi ngga bisa. Cukup satu malam aja, peraturannya begitu untuk tamu, kalo ingin tambah menginap harus di luar pemukiman mereka. Teguh mereka dengan aturan yang turun-temurun dijalankan.
Team kami pulang keesokan harinya, sekitar jam 08.00 sudah ijin keluar dari perkampungan merka, jalan terus sampe kurleb jam 13 siang sampai Cikuem, Desa Nagayati Leuwidamar. Luar biasa anak-anak suku baduy dalam, fisik mereka kuat. Jarta, Naya, Jahira, anak-anak lelaki suku baduy dalam, seusia kurang lebih 10 tahunan pulang pergi menemani dan membantu kami. Kang Jali, Kang Herman, Kang Sanip dan beberapa rekan meraka yang tak saya ketahui namanya sangat membantu perjalanan ini..hatur nuhun pisan akang-akang. Senang bisa bertemu.
Saya cukup kaget, ketika tersadar dan melihat perkampungan mereka di goggle maps landscap, membentuk jejak telapak kaki kanan. Ketika itu di Ciboleger di warung makan im3, Kang Jali menunjukan lokasi perkampungan baduy dalam, tempat tinggal mereka. Lokasi baduy dalam tempat yang kami tuju dalam perjalanan kali ini.
Agak kaget juga, Kang Jali bisa menunjukan lokasi tempat tinggal mereka di goggle maps. Melek teknologi, ternyata mereka. Jarta, anaknya Kang Jali, diam saja, ketika saya ngobrol sama ayahnya. Wajahnya lembut penuh senyum. Jarta sering diajak berfoto oleh kawan-kawan di trip kali ini. Imut wajahnya. Khas anak kecil baduy dalam.
Naya lebih tua sedikit diatas Jarta, sekitar 10 tahunan. Aktif juga anaknya. Ngga mau diem. Aku sedikit memperhatikan tingkah laku Naya didepan rumahnya. Tempat aku Morgan, Bale, Rudy, Haerul, Pak Mul, Hendi dan Kausar menginap malam itu. Dibaduy dalam di Cibeo. Naya terlihat seperti sedang mempraktekan gerakan ‘kamehame’ dikomik kungfu boy yang pernah kubaca.
Apakah ia lihat tv? Sepertinya ngga pernah. Apakah ia lihat youtub? Bisa jadi, tapi aku ragu melihat gerakan kamehame di yutub. Kesimpulan sementara aku, ia melihat orang-orang dewasa di baduy dalam mempraktekan olah batin dan raga seperti itu..entahlah...mereka, penghuni baduy dalam masih diselimuti misteri bagi saya..
Rekan team kami, Bale, ditandu akibat terpeleset ketika keluar dari baduy. Bale mengingatkan saya pada Panglima Besar Jendral Sudirman. Yang bergerilya melawan penjajah belanda, masuk keluar hutan dengan ditandu oleh pasukannya. Sudirman adalah jendral yang taat. Diceriterakan dalam biografinya, ia adalah serorang yang taat pada ajaran agamanya. Banyak cerita ajaib ketika beliau bergerilya di hutan-hutan. Salah satu yang kuketahui ialah ia lolos begitu saja, padahal ia sudah berhadap-hadapan dengan penjajah yang mencarinya. Penjajah meragukan bahwa ia Sudirman.
Tidur malam di rumah Naya yang sederhana namun kokoh, saya menyukainya, rumah yang kurang lebih berukuran 10 x 10 meter. Rumah bilik bambu panggung, terasnya adalah susunan bambu dengan kurang lebih 3 undakan kayu tangga untuk naik. Hanya terdapat satu ruangan yang mungkin mengambil seperempat luas rumah itu. Tempat ibunya Naya memasak untuk kami. Hangat ruangan itu. Saya berkunjung juga ke rumah Kang Jali, ternyata tak jauh berbeda bentuk rumahnya dengan rumah Naya. Saya sempet bermimpi di rumah Naya itu, rumah itu blong ke sungai, terbuka luas kearah sungai. Saya menafsirkan mimpi itu seperti ini..”sepertinya saya harus keluar rumah untuk pipis malam ini” tapi saya tahan-tahan, takut digigit ular. Gelap gulita bro. Entah kenapa saya tahan-tahan
Sebenarnya api disumbu minyak itu cukup untuk menerangi rumah Naya ini, ditambah tidur saya di sleeping bag ini, cukup hangat juga. Padahal naik Gunung Salak, Gunung Slamet dan Gunung Semeru dimalam hari ok ok aja. Entah kenapa, abis mimpi itu, sulit memejamkan mata lagi. Samar-samar terdengar ibunya Naya menyiapkan masakan. Sepertinya udah mulai fajar fikirku. Perlahan ngantuk lagi, tidur pulas sampe pagi. Udah terang matahari aku keluar, pee di sungai belakang rumah Naya.
Aku beli dua botol madu kecil titipan ibu, beli gantungan kunci baduy buat anak-anak.
Mereka sudah hidup ‘tawaazun’ ya Git.. hehe
www.tedigumelaran.blogspot.com
Selasa, 08 Februari 2022
Amazing shalat, keajaiban dan pentingnya shalat
Shalat is amazing & also
important. Shalat adalah ibadah lahir
bathin. Ia adalah untuk kepentingan dunia dan akhirat. Shalat adalah untuk
kehidupan dan untuk kematian kita. Tanpa shalat kita berada dalam kegelapan.
Kegelapan disaat ini dan kegelapan di saat-saat nantinya.
Shalat
adalah peribadatan yang diperintah langsung oleh Allah SWT, Tuhan Semsta Alam,
kepada Nabi Muhammad SAW, ketika beliau melakukan mi’raj. Bertemu langsung dengan Allah dilangit
ketujuh. Perjalanan mi’raj adalah perjalanan beliau SAW dari masjidil Al-Aqsa
di Palestina ke langit ke tujuh untuk bertemu Allah. [disini saja kita sudah
mendapatkan sesuatu yang sangat ajaib, amazing] bagaimana mungkin seorang
manusia pada masa itu, 15 abad yang lampau bisa bepergian ke langit. Tapi itu
terjadi. [ sebelum beliau melakukan mi’raj ini, beliau melakukan isro’, yaitu
perjalanan dari masjidil haram di Mekkah ke masjidil Al-Aqsa di Palestina]
mahasuci Allah. Allah yang
memperjalankan beliau. Ketika itu beliau saw didampingi oleh malaikat jibril
AS.
Perintah
shalat ada didalam kitab suci Al-qur’an. ‘Wa aqiimushshalaat…’ ‘dan dirikanlah
shalat..’. lalu rosulullah saw mencontohkan bagaimana cara mendirikan shalat
itu. Dalam suatu hadist ‘shollu kamaa roaitu minni usholli..’ ‘shalatlah kalian
sebagaimana kalian melihat aku shalat’.
Shalat
terdiri dari kegiatan, gerakan tubuh dan bacaan-bacaan dalam tiap gerakan
sebagaimana biasa kita kerjakan.
Insyallah. Alhamdulillah. Dimana tidak hanya gerakan tubuh dan bacaan
saja, tetapi hati kita juga berusaha menghayati apa yang kit abaca. Merasakan
kita sedang berhadapan dengan Allah langsung.
Merintih, berdo’a, menghamba, menyerah langsung dihadapan Allah Yang
Maha Berkuasa atas segalanya. Mengakui bahwa kita memasrahkan segala yang kita
miliki kepada Allah dalam shalat itu.
Menenangkan hati kita ketika shalat itu. Mengistirahatkan hati kita dari
segala hiruk pikuk nafsu jiwa manusia. Merendahkan serendah-rendahnya diri kita
dihadapan Allah Yang Maha Berkehendak
atas diri kita manusia dan makhluk ciptaaan-Nya. Tiada daya dan kekuatan
melaikan hanya dari Allah Yang Maha Agung.
Tata
cara shalat tersebut adalah mengikuti contoh rosul SAW. Dalam suatu riwayat hadist, sahabat nabi
sampai mengulang shalat 3x sampai bisa melakukan seperti nabi saw. Dalam hadist
tersebut, digambarkan percakapan mungkin seperti berikut;
Sahabat : “shalat saya seperti
itu ya rasul’
Nabi saw : “kamu belum shalat,
bukan seperti itu shalat”
Lalu sahabat nabi ini mengulang
shalatnya
Kata nabi saw : “kamu belum
shalat, bukan seperti itu shalat”
Lalu sahabat nabi ini mengulang
shalatnya
Setelah sahabat shalat, nabi saw
lagi-lagi mengatakan “kamu belum shalat”.
Lalu sahabat tersebut berkata :”itu sudah semampu saya wahai nabi”. Lalu
nabi saw mencontohkan gerakan shalat yang benar. Wallahu a’lam..
Sampai sekarang insyallah gerakan
shalat tetap terjaga bentuknya, yaitu berdiri, ruku,I’tidal sujud, duduk
diantara dua sujud dan duduk tasyahud. Semuanya dengan tuma’ninah (dengan
ketenangan) karena Allah SWT sendirilah yang mengajarkan gerakan shalat
tersebut kepada nabi saw. Dan nabi saw-pun mencontohkan berbagai macam variasi
gerakan shalat. Bahkan dalam al-qur’an
langsung dijelaskan bagaimana shalat ketika posisi berperang. Nabi mencontohkan shalat ketika sakit, shalat
ketika duduk diperjalanan, shalat ketika berbaring. Nabi saw mencontohkan
semuanya. Allah swt maha mengetahui atas
segalanya.
Shalat
juga menjadikan kita tetap hidup sampai saat ini. Ini suatu keajaiban untuk
penulis pribadi. Merasakan Allah masih mengizinkan hidup penulis untuk shalat.
Alhamdulillah orang tua yang mengajarkan shalat kepada penulis, shalat untuk
mengikuti ajaran rosul Muhammad saw. Semoga Allah SWT selalu membimbing
hamba-hamba-Nya …Aamiin…
Bacaan-bacaan
dalam shalat adalah suatu keajaiban-keajaiban yang banyak. Suatu bacaan-bacaan
yang menunjukan suatu penghambaan kepada Yang Maha Agung.
Fahamilah arti bacaan-bacaan
shalat, hayati maknanya dan pembaca pasti akan merasakan suatu keindahan,
ketenangan, ketika melaksanakan shalat itu. Kegembiraan setelah melaksanakan
shalat itu. Shalat lima waktu yang utama adalah shalat zuhur, asar, maghrib, isya
dan subuh. Shalat-shalat yang lainnya adalah shalat sunah yang utama seperti
tahajud, witir, tarawih (qiyamul lail di bulan ramadhan), shalat sunah qobliyah
dan ba’diyah shalat fardu tadi, banyak macamnya. Shalat meminta hujan (shalat
istisqo). Marilah terus kita belajar
memperbaiki pengetahuan kita tentang shalat dengan banyak membaca buku-buku
karya ulama-ulama, perbaiki terus kualitas shalat kita.. sebagaimana kita terus
memperbaiki kualitas hidup kita sebagaimana ayat ‘ wa aqiimushshalat’ tadi..
mengimplementasikan, mengejawantahkan shalat kita dalam hidup bergaul bersama
manusia lainnya, bershabar dalam segala kondisi. Sebagaimana perintah Allah
dalam Al-qur’an “perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah
didalam beribadah kepada-Nya”..”wa’muru ahlakum bishshalaat was tobir li
ibaadatih..”.. berusahalah untuk menjadikan shalat adalah sebagai pengabdian,
penghambaan yang sangat oleh kita sebagai abid, hamba kepada Allah Yang
Berkuasa atas segalanya.. selalu berjamaah 5 waktu di masjid, adalah suatu
kekayaan yang tak berhingga pemberian Allah SWT.. Al-Rajihi, seorang trilyuner
arab Saudi, dimasa tuanya berusaha melakukan shalat 5 waktu secara berjama’ah.
Pergi ke kantor, bekerja, kemana saja, pergi naik gunung, pergi sekolah sampai
luar negeri jangan lupa shalat, datangi masjid-masjid, banyak masjid dibangun
orang-orang muslim bahkan non muslim sekalipun.
Bagus-bagus, indah-indah masjid tersebut. Datangi shalat 5 waktu
berjamaah. Atau bila sulit menemukan masjid, jadikanlah tanah Allah yang luas
ini sebagai masjid. Shalatlah di muka
bumi Allah yang maha suci. Jadikan hati kita sebagai masjid. Tempat suci lahir
bathin dalam hati kita.. allahumma
sholli alla Muhammad
Sebelum shalat jangan lupa
bersuci terlebih dahulu, toharoh, membersihakan jiwa raga kita dari segala
urusan duniawi, ada bacaan-bacaan ketika kita berwudhu, atau mandi bila hadas
besar. Membaca basmallah kekita mencuci
kedua tangan..
Jama’ah tabligh aktif mengajak
kita untuk shalat 5 waktu berjama’ah di masjid.
Kita,muslim, saling melengkapi satu sama lain. Maknai terus shalat kita,
bahwa shalat adalah ajaib dan penting untuk selalu kita kerjakan..

