Kamis, 30 Juli 2015
Keberfihakan kita pada islam
Islam,salam,kedamaian, adalah suatu kondisi yang sangat diidam-idamkan. Suatu kesukaan belaka. Suatu kesenangan yang menentramkan. Suatu kehidupan yang nyaman,tenang,damai,tanpa ada kekerasan,kebengisan,kebencian yang melahirkan pembunuhan. Dalam al-qur'an membunuh satu jiwa berarti pula membunuh seluruh manusia di muka bumi.
Kebatilan akan hancur dan lenyap. Tinggallah islam.kebenaran yang akan muncul. Islam jalan kebenaran akan menuju syurga. Dan kebatilan, kejahatan, sifat-sifat iblis akan menggiring menuju neraka. Semoga kita tetap berkomitmen dalam kebenaran islam.
Islam yang terang benderang telah dirasakan oleh seluruh manusia. Bila fitrahnya ditemukan. Jiwa sucinya mencari kebenaran, pasti didapatilah islam sebagai jalan lurus. Jalan yang menentramkan batin. Batin yang gelisah adalah akibat kesalahan-kesalahan yang dibimbing oleh iblis yang bersarang dalam jiwa manusia. Tuhan telah mengilhamkan kepada manusia jalan ketaqwaan dan kebatilan. Potensi-potensi inilah yang ada pada jiwa kita. Jalan mana yang akan ditempuh. akankah jalan kebenaran ataukah jalan kebatilan yang dipilih. Allah swt. Tuhan semesta alam berkuasa atas segalanya.memberikan petunjuk jalan hidup dengan mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul. Manusia-manusia utusan tuhan, untuk menjelaska kehidupan. Semoga keselamatan atas mereka semua. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan islam,jalan keselamatan, islam yang sama semenjak nabi adam as ,nabi luth, nabi Ibrahim,Nabi musa, nabi isa, sampai nabi terakhir muhammad saw. Inti ajaran yang disampaikan Adalah jalan islam,jalan kebenaran,lawan dari jalan kenatilan. Nurani kita mampu merasakan hal ini. Kebenaran dan kebatilan. Jalan keselamatan ini tak akan pernah redup,tak akan pernah mati walau para penentang dari kubu lebatilan terus berusaha meredupkan bahkan berusaha mematikan jalan islam.
Sejauh mana nurani kita berfihak pada jalan kebenaran islam ini?. Nilai-nilai islam adalah nilai-nilai yang membangun peradaban yang maju,modern,mencontoh peri kehidupan rosul muhammad saw. Umat islam yang maju yang mengucapkan dua kalimat syahadat.dan mengamalkan segala ajaran rasul saw.
Pemimpin -pemimpin dunia sekarang ini,semoga mereka menyatakan bahwa dirinya muslim. Berani menyatakan keislamannya. Makin banyak penduduk di eropa dan amerika yang memeluk islam.menyadari jalan hidup yang lurus adalah islam.islam akan jaya kembali.akan kembali memegang kendali peradaban umat manusia sedunia. Allah berkuasa atas segalanya.
Klopkan diri dengan rel islam.tempa diri terus berada jalan kebenaran.kalahkan kebatilan.bina diri terus agar tetap dalam jalan islam. Berhati-hati terhadap iblis, yang selalu menggoda agar kita jauh dari jalan kebenaran islam
Selasa, 14 April 2015
banyak orang baik disekitar kita
kedua orang tua yang udah membimbing hidup kita
guru-guru kita di sekolah dulu
orang-orang dijalan yang begitu baiknya ngasih kita petunjuk jalan ketika nyasar
Jumat, 14 November 2014
Selasa, 02 September 2014
Bismillah.... ODOJ Adventure, cerita dan pengalaman versi saya Tegum odoj412
Beberapa hal yang membuat saya meniatkan untuk ikut dan terkesan dalam odoj adventure semeru kali ini. Saya ikut odoj adventure semeru kali ini, yang pertama karena odoj. Ya. Ini yang terpenting. Komunitas odoj.
Udah 7 tahunan saya tidak ke ranu pane. Kalo kata mbah marto petir -ntar saya akan cerita siapa dia- harusnya setahun sekali kesini. Karena memakai nama komunitas odoj inilah saya memaksakan diri pengen ikut ke ranu kumbolo.
Komunitas odoj adalah komunitas orang-orang yang berusaha mengkhatamkan bacaan qur’an satu juz satu hari perorangnya. One day one juz. Komunitas yang seringnya/aktivitasnya didunia maya. Mereka, kita, kami adalah orang-orang yang ngobrol sehari-harinya lewat WA. Memakai sarana yang diciptakan orang kafir untuk ibadah.insyaallah mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Satu grup odoj terdiri dari 30 orang. Dimana masing-masing anggota membaca satu juz Al-qur’an. Jadi pada hari itu/setiap harinya khatam al-qur’an 30 juz oleh grup odoj ini. Saya sendiri tergabung di grup odoj 412. Alhamdulillah sudah berjalan 8 bulan saya di grup ini. Insyaallah khatam pribadi 8 kali. Terimakasih banyak, syukron jiddan kepada mereka penggagas program odoj ini. Saya fikir ini (odoj) adalah sarana kita, muslim yang ingin beribadah kepada Allah, dekat dengan Allah melalui membaca qur’an. Meresapi al-qur’an. Menghayati al-qur’an. Berusaha mengamalkan al-qur’an. Mematuhi perintah Allah, mengikuti nabi dan rosul mulia Muhammad SAW lewat al-qur’an ini. Harapan besar kepada al-qur’an ini agar dapat menjadi penolong pembacanya pada hari-hari yang sulit di akhirat nanti.amiin.. (di dunia saja al-qur’an sudah menjadi teman setia mereka para tahanan di Guantanamo. Penjara paling ekstrim yang dimiliki amerika. Teman setia mereka para pejuang di Palestina. Di tahanan-tahanan israel yang penuh penyiksaan. Al-qur’an teman setia seorang muslim yang hidup di dunia ini. Mau nyari teman setia kemana lagi? Kalo lagi susah, baca qur’an. Langsung inget bahwa Allah diatas segalanya. Wallahu alaa kulli syai’in qodiir. Al-qur’an menjawab segala permasalahan manusia. Banyak mualaf yang tertarik masuk Islam karena Al-qur’an)
Komunitas odoj ini yang menarik saya sampai Lumajang
7 tahun yang lalu naek semeru lewat malang, sekarang lewat lumajang. Walau lebih jauh meeting point-nya, tapi jalur lumajang menuju ranu pane ini adalah jalur yang hutan melulu menurut saya. Begitu belok kiri lepas dari kota lumajang, kanan-kiri jalanan adalah hutan hujan tropis alami, full,begitu pemandangannya sampai ranu pane. Berbeda dengan jalur dari pasar tumpang menuju ranu pane, yang banyak melihat perkebunan apel, perkebunan sayur mayur penduduk, masih ada rumah-rumah, pemandangan pegunungan sekitar bromo, bukit pasir sebelum bromo, jalur hijau tetep ada. Jalur lumajang- ranu pane terbilang konsisten dalam hal pemandangannya. Dua jalur ini tetep asyik. Dua-duanya saya menyukainya. Pengalaman baru menuju ranu pane lewat lumajang. Walau pada kali perjalanan ini saya tidak sampai mahameru, inget Alit –adik saya. Dulu, bisa mendaki sampai mahameru bareng Alit. Cape bareng Alit. Alit ngga’ ikut kali ini ke ranu pani.
Udah lama saya ngga berpetualangan jauh. 7 tahun ngga ke semeru. Sempet pengen banget lagi ke semeru sebelum bersama odoj ini. Berbagai alasan akhirnya tidak jadi ke semeru lagi.
Tim odoj adventure ini berjumlah 58 orang yang tercatat di ijin pendakian. Susah juga ngafal nama temen-temen odoj walau 58 orang ini. Saya ngga hafal semua kawans, maaf ya. Yang paling saya ingat dari 58 orang ini, yaitu panitia. Kepala ‘suku’, akh sujay, ustad wawan ( 58 orang ini adalah orang-orang yang T-O-P buat saya. Orang-orang hebat, salut saya sama kalian semua), akh roni, akh dany, cak ipang, akh haris. (ngga’ mungkin sepertinya saya menulis kesan saya terhadap mereka, terhadap kalian 58 orang ini satu persatu..)panitia( siapa lagi ya?). kelompok satu, akh iqbal, akh siswandi, akh kamal dan akh waroqah; teman satu perjalanan dari gubeng ke lumajang akh dika dan akh rahmat; teman satu perjalanan pulang ke gubeng lagi, akh syahroni, akh imam, akh jenal, akh kholid, akh aje, akh eko; teman-teman yang saya ingat di masjid sdit ar-rahmah tempat meeting point kami: akh opick, akh mikail, akh arham, akh ijudin al-qossam, akh fati yakan, akh anif, akh havid, akh muhtajin (initemensatugrupdiodoj412, ketemu pertama kali di truk waktu ke lumajang dari sdit. Didepan saya padahal. Tidur, nyender tas. Baru NGEUH setelah kita sms-an). Akh latief, akh kaustar. Maaf ya kalo belum kesebut... seingat saya mereka memiliki ceritanya masing-masing. Akh sujay orangnya kecil tapi enerjik. Ustad wawan sabar banget kayanya. Akh roni seneng membantu, akh dany_ini yang membuat saya teringat Alit_kalem banget orangnya. Bermalam di ranu kumbolo pada malam kedua bersama akh dany ini. Ngasih golok dan tissu buat nyumput ke atas bukit di rakum. Cak ipang humoris, segar dengan humor-humor celetelukannya. Pengurus odoj pusat juga bareng akh sujay. Akh haris soleh banget kayanya ni orang, ngajar bahasa arab di sdit arrahmah, penuh senyum,ngakunya bukan panitia, Cuma diajak bantu-bantu aja. Mau ke mesir akhir september ini, mau kuliah di al-azhar katanya. Hafal 30 juz al-qur’an.ini yang paling saya inget tentang akh haris ini. Akh iqbal kepala kelompok bagi teman-temannya, akh siswandi tetangga om saya di ciracas jaktim. Akh kamal siips, akh waraqah pak guru, akh dika kalau bicara tenang, tertata rapih, akh rahmat kalem, sepatunya diikhlaskan aja, semoga mendapat gantinya. Akh syahroni orang Serang yang menurut saya asli Serangnya, akh imam selalu senyum kalo ngobrol, akh jenal baik, akh kholid yang baik juga, ngasih saya sarapan di gubeng, thanks alot. Akh aje menwa yang oke, akh opick pns di bulukumba berbagi pengalaman, akh mikail yang terlihat selalu riang gembira pembawaannya, akh arham kecil tapi kuat bawa karil besar, akh ijudin al-qassam yang nyantai tapi berisi, akh fathi yakkan, akh latif selalu gembira, akh havid odoj senior , akh anif yang kalem , maaf ya akhii,.. ngga’ kessebut semua.afwan jiddan sekali lagi .
Alhamdulillah rabbal alamiin menghadap kedepan di kereta pasundan ini duduk di gerbong kedua kursi 5E.
(maaf ya teman-teman saya meninggalkan kalian, khususnya akh dany di rakum, saya turun duluan ke ranu pani lagi. Saya khawatir kedinginan lagi di rakum, inget pernah bolong paru-paru gara-gara kedinginan dulu)
Saya turun kembali ke ranu pani dari rakum pake porter. Alasannya berat kai ini karil saya, dibanding 7 tahun lalu. Karil saya sekarang 100 liter. Ditambah daypack didepan. Akhirnya saya liat seorang porter yang lagi ngahuleng (melamun) sambil melihat tenda-tenda di rakum dekat dengan pondok pendaki. Saya samperin aja si bapa itu, yang belakangan saya ketahui bernama pak samsun. Luar biasa, dari pak samsun ini saya kenal dengan keluarganya, istrinya, anaknya yang bernama yudha, mertua laki-laki n’ permpuan dari pak samsun. Inti dari pertemuan dengan pak samsun ini adalah mbah marto petir yang sudah tua sekali, terlihat dari raut di wajah dan kerutan-kerutan di tangannya. Saya memberinya mushaf al-qur’an yang saya bawa. Kenang-kenangan dari saya buat mbah marto, sesepuh ranu pani. 105 tahun umurnya. Masih bisa baca jam tangan. Saya menghangatkan diri di rumah mbah marto setelah bersih-bersih badan di rumah pak samsun depan rumah mbah marto petir. ‘porter’ senior bukan sekedar porter, banyak pendaki pernah datang dirumahnya, terbukti dari berbagai foto-foto tamunya bersamanya. Penghargaan atas evakuasi jenazah soe hok gie; 5 sleeping bag kenangan pendaki yang mampir ke rumahnya; stik mendaki yang menggantung di dinding rumahnya. Rumahnya yang sederhana tapi hangat oleh bakaran kayu didapurnya. Istri mbah marto yang menyediakan sholat maghrib saya di rumah mereka. Istri pak samsun yang membuat masakan buat saya. Alhamdulillah kenyang. Telur dadar,mie rebus, semuanya hangat, lalapan, krupuk, kopi, teh alhamdulillah bisa bertemu pak samsun di dekat pondok pendaki itu, siang itu. Jam 13.30 selepas saya izin ke akh dany akan turun duluan ke ranu pani. Pak samsun mengajak saya turun lewat jalur ayak-ayak. Kaget awalnya. Jalur yang dulu pernah diajakin oleh sony [teman satu team pertama kali ke mahameru, ketika akan turun ke ranu pani dari ranu kumbolo tapi trus ngga’ jadi]. Memang jalur ini singkat. Saya dan pak samsun sampai ke rumah beliau jam 04.30, jadi kurang lebih 3 jam saya turun ke ranu pani dari ranu kumbolo. Setengah perjalanan biasanya dari ‘jalur bawah’. Begitu pak samsun menyebutnya. Ayak-ayak jalur atas kata pak samsun. Dari rakum sampai puncak ayak-ayak , perjalanan menanjak terus tidak pernah berhenti, curam juga jalurnya, tapi setelah puncak ayak-ayak akan terus turun, menyenangkan. Sepi pendaki di jalur ini. saya dan pak samsun hanya bertemu dua tim. satu tim yang turun dan satu tim lagi yang mendaki lewat jalur ayak-ayak. Ntar kalo Hassan dan emanya pengen ke ranu kumbolo akan saya ajak lewat jalur ayak-ayak aja. Bisa naek motor trail kalo mau.
Soni, sekertaris relawan saver. Relewan yang betul-betul peduli terhadap kelestarian lingkungan. Banyak bertukar fikiran sama mas soni ini ketika duluan sampai di ranu pani. Dan banyak ngobrol juga tentang aktivitasny terhadap pelestarian lingkungan taman nasional semeru
(alhamdulillah ditulis diatas kereta pasundan dari stasiun gubeng menunu banjar, 2 sept. 2014)
Mohon maaf bila ada kesalahan penulisan nama atau gelar : )
Minggu, 08 Desember 2013
Novel ‘Altitude 3676’ Mengajak Untuk Mendirikan Shalat
Baru beberapa lembar saya membaca novel altitude 3676, yang terasa adalah ‘beat’ backpacker, petualang, pengelana, penikmat keindahan alam. Terasa sekali kental aroma perjalanan-perjalanan yang menyenangkan, perjalanan yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh penulisnya. Seolah-olah penulis novel membuncahkan seluruh pengalaman backpackernya, pengalaman petualangannya, pengalaman menikmati indahnya alam, terasa sekali ajakannya untuk ‘come on go out from your house, nikmati indahnya alam!
Tokoh utama cerita ini yaitu Faras, ikhsan dan mareta. Mereka bertiga bercerita bergantian di novel ini. Ketiganya adalah traveller. Faras, gadis Desa Ranu Pane, desa terakhir sebelum naik ke gunung semeru. Faras berteman dengan Ikhsan, pendaki gunung asal Jakarta dengan latar belakang hidupnya yang menyedihkan.
Satu hal yang dapat saya tangkap dari pesan yang ingin disampaikan penulis novel kepada pembaca adalah masalah shalat. Jangan lupakan shalat 5 waktu. Dan lebih baik lagi bila dikerjakan secara berjama’ah. Betapa gigihnya Faras mengajak Mareta untuk shalat berjama’ah ketika diawal cerita perjumpaan mereka untuk pertama kalinya. Shalatnya Ikhsan di dalam penjara. Shalatnya Yusuf, kenalan Ikhsan di dalam penjara. Shalatnya Pak Daud, ayah Faras. Shalat berjama’ahnya Pak Daud, Faras, Ikhsan dan Mareta di ranu kumbolo. Shalat subuhnya mereka di puncak mahameru. Pesan untuk tidak melewatkan shalat, lebih utama lagi shalat berjama’ah.
Seperti yang saya ketahui dan lazim diketahui oleh para pendaki, backpacker, sedikit sekali mereka melaksanakan shalat 5 waktu dalam perjalanan atau pendakian. Bisa dihitung jari. Mungkin dua dari sepuluh pendaki gunung yang istiqomah melaksanakan shalat 5 waktu ini. Mudah-mudahan perkiraan saya salah. Saya berharap setengah dari para pendaki melaksanakan shalat yang 5 waktu ini. Saya teringat film ‘vertical limit’, dimana seorang pendakinya ada yang melaksanakan shalat. Saya sangat menghargai produser film yang memunculkan pemeran pendaki gunung yang melaksanakan shalat.
Alur cerita dalam novel altitude 3676 ini, secara keseluruhan adalah alur maju. Walau ada beberapa bagian menggunakan alur bolak-balik. Dimana klimak cerita novel ini adalah keberhasilan mereka berempat; Pak Daud, Faras, Ikhsan dan Mareta sampai di puncak mahameru. Dan saya fikir, dendam Ikhsan terhadap ibu tirinya sudah berkurang. Terbukti dengan kebersamaannya dengan Mareta, adik tirinya yang bisa mencapai puncak semeru.
Hal yang paling berkesan disini adalah Faras yang membaca beberapa ayat Al-Qur’an di puncak gunung semeru. Ia membaca surat Al-A’raaf mengenai tempat tertinggi di akhirat nanti. Tempat antara surga dan neraka, dimana para penghuni al-a’raaf ini adalah mereka yang belum pasti akan masuk kemana? Surga atau neraka. Saya merasa salut disini, menafsirkan al-a’raaf dengan tempat tertinggi yang ada di dunia. Dalam novel ini adalah tempat tertinggi di pulau jawa, yang dalam hal ini sering disebut sebagai puncak abadi para dewa. Sedikit ada kejanggalan sebetulnya disini. Menyamakan al-a’raaf nya Allah SWT nanti di akhirat dengan mahameru. Saya fikir suatu hal yang jauh berbeda. Kepercayaan adanya dewa-dewa adalah suatu hal yang bertentangan dengan keyakinan Islam yang monotheisme. Tetapi dibalik hal ini yaitu persamaan mengenai tempat tertinggi, kesamaan kata ‘tempat tertinggi’.
Bisa dikatakan ini adalah novel da’wah. Penyampaian ajaran Islam lewat novel. Kebanyakan novel, melulu mengenai keduniaan, tapi ini menyentuh dalam sisi-sisi keakhiratan.
Gaya penulisan secara keseluruhan yaitu menggunakan kata ganti orang pertama tunggal; saya, aku dan gue. Bergantian pelaku cerita menuliskan ceritanya. Masing-masing memiliki ceritanya sendiri yang membuat aalur cerita dalam novel menjadi utuh. Tetapi yang sering muncul saya fikir yaitu Faras dan Ikhsan. Yang tidak pernah muncul menceritakan ceritanya sendiri yaitu Pak Daud. Diawal cerita tokoh Fikri, teman Ikhsan, sempat muncul dengan kata ganti orang pertama. Muncul juga cerita mengenai keluarga Fikri.lalu cerita ibunya Ikhsan yang dibakar, ayah Ikhsan, saudara tiri Ikhsan lainnya yaitu Aulia.
Secara umum cerita dalam novel ini berpusat ditiga cerita. Yaitu cerita di Tanjung Bira, konflik keluarga Ikhsan dan pendakian semeru. Menurut saya cerita yang mendominasi adalah konflik dalam keluarga Iksan.
Judul buku : Altitude 3676
Penulis : Azzura Dayana
ISBN : 978-602-8277-92-1
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Ketebalan : 416 hlm.; 20 cm
Harga : Rp. 47.200
Selasa, 29 Januari 2013
Jumat, 20 Januari 2012
Aku lagi ingat ayah. Mudah-mudahan ayah sehat disana.
Ali RA, sahabat Nabi SAW, menantu beliau pernah berkata; “lelaki yang baik ialah yang mengatakan ‘inilah aku’, bukan ‘inilah ayahku’”. Maksudnya adalah lelaki yang baik menurut Ali ialah yang berusaha sendiri, tidak mengandalkan ayahnya. Aku tak bermaksud memunculkan ayahku. Aku, hanya, lagi ingat ayah. Ayah yang baik, ayah yang galak, ayah yang lucu, ayah yang serius, ayah yang soleh, ayah yang pintar, ayah yang suka berkebun, ayah yang ulama, usia lanjut makin aktif, ayah yang jago maen voli, ayah yang jago maen bola, ayah yang jago badminton, ayah yang pekerja keras, ayah yang suka berdakwah, ayah yang suka pengajian, ayah yang suka baca buku, ayah yang suka baca al-qur’an setiap hari, ayah yang suka ngajarin anak orang, ayah yang bentar lagi pensiun, ayah yang super, ayah yang hebat, ayah yang ingin anak-anaknya mandiri, ayah yang tak pernah putus asa, ayah yang bener-bener ayah.
Aku lagi inget ayah.
Ayah yang membesarkan dan mengurus aku bersama ibu, mendidik aku dan adik-adik hingga dewasa, hingga sekarang ayah masih memperhatikan kami, mensuport kami. Ayah yang menasehati kami bila kami keliru, kadang ayah menyentil kupingku, bila aku kelewatan bandelnya, tak lebih hanya menyentil kecil kupingku. Aku teringat teman bermainku waktu kecil; sampai merah-merah lengan dan kakinya karena disabet kabel oleh ayahnya. Aku masih lumayan. Karena aku bandel juga waktu itu.
Aku lagi inget ayah.
Ayah hujan-hujanan pulang ke rumah bawa meja makan yang baru dibeli sepulang kerja, baju dan celananya basah. Tapi ayah senyum, disambut ibu dan kami.
Aku lagi inget ayah.
Pergi ke masjid dekat rumah ngikutin ayah dari belakang, lalu aku shalat disisi ayah, karena aku belum berani jauh dari ayah waktu itu. Didikan ayah yang berbekas hingga sekarang, berusaha shalat lima waktu di masjid tepat waktu. Aku ingat aku dan dua adikku yang masih kecil-kecil bersama ayah selalu shalat subuh di masjid dekat rumah kami, lainnya bapak-bapak, hanya kami bertiga, anak-anak kecil yang ke masjid ketika subuh, sangat membekas hingga sekarang. Kami berusaha shalat subuh di masjid. Ayah yang mengajari kami mengaji selepas maghrib, tidak boleh tv menyala. Agar kami semangat mengaji, ayah juga mengajari teman-teman kami mengaji di rumahnya. Ramai anak-anak dirumah ayah selepas maghrib sampai isya, begitu terus hingga aku kuliah. Rumah ayah masih didatangi anak yang mengaji. Sekarang ayah dipercaya masyarakat mengelola TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) didekat masjid dekat rumah kami. Santrinya banyak dibantu guru-guru. Sangat membekas. Aku berusaha membaca Al-qur’an selepas maghrib.
Aku ingat diajari ayah tentang sudut, inget banget belajar matematika itu ayah yang ngajarin, belajar kosa kata bahasa inggris, ayah yang ngajarin; belajar bersih-bersih di halaman, ayah yang ngajarin; belajar bulutangkis, ayah yang ngajarin; ayah yang ngajarin main bola di tengah rumah bersama adik-adik. Never forget these..
Ayah yang mengenalkan aku pada Adnan Khashoggi, bahwa hidup harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup.
Ayah yang menyayangi kucing. Tak terhitung banyaknya kucing silih berganti meramaikan rumah semenjak kami kecil hingga sekarang. Syarat dari ibu, “kucing dilarang masuk rumah, hanya di teras saja”. Aku ingat nama-nama kucing ayah; si utih, si uter, si nyinyit, si nyunyut [si garong musuh si utih haha..] Akupun menyukai kucing-kucing itu. Aku lupa kucing-kucing lainnya yang pernah datang/ada di rumah. Ayah pernah memelihara ayam. Banyak ayamnya, tiap hari bertelur, kami makan telur sehat setiap hari. Ayah pernah memelihara angsa/soang. Ayah pernah memelihara entog. Ayah senang berbagai jenis pohon. Pisang, pepaya, mangga, rambutan, nangka, mangga apel, wah senangnya. Hingga sekarang kalo pulang ke rumah ayah dan ibu di Serang, ada saja buah-buahan hasil tanaman ayah.
Dulu ingat sewaktu kecil, buah pisang selalu ada di rumah, hasil kebun ayah selain buah pepaya, pohon nangka yang selalu berbuah. Alhamdulillah tetangga-tetangga kebagian hasil tanaman ayah. Mangga sekarang belum berbuah lagi. Kemarin ketika ayah dan ibu datang berkunjung, tak lupa bawa sekantong besar buah mangga yang manis-manis. Ayah seorang pekerja keras. Ayah masih menanam pohon hingga sekarang. Ayah masih mengajar di sekolah. Mata pelajaran yang ayah ajar sekarang adalah BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) mata pelajaran pilihan di sekolah. Sebelumnya ayah pernah mengajar olah raga, pmp, ekonomi, ppkn, bahasa inggris, wah ayahku pintar. Yang sangat membekas padaku ialah ayah mengajariku membaca al-qur’an. Sebentar lagi ayah pensiun, tapi ayah sudah punya rencana mau jualan mukena dan buku-buku katanya. Oiya, ayah dipercaya di sekolahnya mengurus perpustakaan masjid. Dari dulu memang ayah senang sama buku. Berbagai judul buku ayah bawa ke rumah. Yang sangat membekas bagiku ialah ketika ayah memberi buku komik islami padaku, komik tentang Bilal bin Rabah, seorang budak yang pertama kali menerima ajaran yang dibawa Muhammad. Sangat membekas. Bilal yang ditindih batu besar karena mengikuti ajaran Islam, oleh majikannya. Lalu diselamatkan Allah dengan dibelinya Bilal oleh Abu Bakar As-Siddiq. Bilal ketika itu hanya mengucapkan ‘Ahad’ ‘..Ahad ‘ saja. Yang berarti Allah Maha Esa, ketika ditindih batu besar di padang pasir yang terik panas oleh majikannya. Aku dulu bandel, lalu dibelikanlah buku itu oleh ayah, lalu aku senang buku.
Mudah-mudahan cita-cita ayah ke tanah suci kesampean yah... aamiin..
Aku lagi inget ayah.
Ayah yang membesarkan dan mengurus aku bersama ibu, mendidik aku dan adik-adik hingga dewasa, hingga sekarang ayah masih memperhatikan kami, mensuport kami. Ayah yang menasehati kami bila kami keliru, kadang ayah menyentil kupingku, bila aku kelewatan bandelnya, tak lebih hanya menyentil kecil kupingku. Aku teringat teman bermainku waktu kecil; sampai merah-merah lengan dan kakinya karena disabet kabel oleh ayahnya. Aku masih lumayan. Karena aku bandel juga waktu itu.
Aku lagi inget ayah.
Ayah hujan-hujanan pulang ke rumah bawa meja makan yang baru dibeli sepulang kerja, baju dan celananya basah. Tapi ayah senyum, disambut ibu dan kami.
Aku lagi inget ayah.
Pergi ke masjid dekat rumah ngikutin ayah dari belakang, lalu aku shalat disisi ayah, karena aku belum berani jauh dari ayah waktu itu. Didikan ayah yang berbekas hingga sekarang, berusaha shalat lima waktu di masjid tepat waktu. Aku ingat aku dan dua adikku yang masih kecil-kecil bersama ayah selalu shalat subuh di masjid dekat rumah kami, lainnya bapak-bapak, hanya kami bertiga, anak-anak kecil yang ke masjid ketika subuh, sangat membekas hingga sekarang. Kami berusaha shalat subuh di masjid. Ayah yang mengajari kami mengaji selepas maghrib, tidak boleh tv menyala. Agar kami semangat mengaji, ayah juga mengajari teman-teman kami mengaji di rumahnya. Ramai anak-anak dirumah ayah selepas maghrib sampai isya, begitu terus hingga aku kuliah. Rumah ayah masih didatangi anak yang mengaji. Sekarang ayah dipercaya masyarakat mengelola TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) didekat masjid dekat rumah kami. Santrinya banyak dibantu guru-guru. Sangat membekas. Aku berusaha membaca Al-qur’an selepas maghrib.
Aku ingat diajari ayah tentang sudut, inget banget belajar matematika itu ayah yang ngajarin, belajar kosa kata bahasa inggris, ayah yang ngajarin; belajar bersih-bersih di halaman, ayah yang ngajarin; belajar bulutangkis, ayah yang ngajarin; ayah yang ngajarin main bola di tengah rumah bersama adik-adik. Never forget these..
Ayah yang mengenalkan aku pada Adnan Khashoggi, bahwa hidup harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup.
Ayah yang menyayangi kucing. Tak terhitung banyaknya kucing silih berganti meramaikan rumah semenjak kami kecil hingga sekarang. Syarat dari ibu, “kucing dilarang masuk rumah, hanya di teras saja”. Aku ingat nama-nama kucing ayah; si utih, si uter, si nyinyit, si nyunyut [si garong musuh si utih haha..] Akupun menyukai kucing-kucing itu. Aku lupa kucing-kucing lainnya yang pernah datang/ada di rumah. Ayah pernah memelihara ayam. Banyak ayamnya, tiap hari bertelur, kami makan telur sehat setiap hari. Ayah pernah memelihara angsa/soang. Ayah pernah memelihara entog. Ayah senang berbagai jenis pohon. Pisang, pepaya, mangga, rambutan, nangka, mangga apel, wah senangnya. Hingga sekarang kalo pulang ke rumah ayah dan ibu di Serang, ada saja buah-buahan hasil tanaman ayah.
Dulu ingat sewaktu kecil, buah pisang selalu ada di rumah, hasil kebun ayah selain buah pepaya, pohon nangka yang selalu berbuah. Alhamdulillah tetangga-tetangga kebagian hasil tanaman ayah. Mangga sekarang belum berbuah lagi. Kemarin ketika ayah dan ibu datang berkunjung, tak lupa bawa sekantong besar buah mangga yang manis-manis. Ayah seorang pekerja keras. Ayah masih menanam pohon hingga sekarang. Ayah masih mengajar di sekolah. Mata pelajaran yang ayah ajar sekarang adalah BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) mata pelajaran pilihan di sekolah. Sebelumnya ayah pernah mengajar olah raga, pmp, ekonomi, ppkn, bahasa inggris, wah ayahku pintar. Yang sangat membekas padaku ialah ayah mengajariku membaca al-qur’an. Sebentar lagi ayah pensiun, tapi ayah sudah punya rencana mau jualan mukena dan buku-buku katanya. Oiya, ayah dipercaya di sekolahnya mengurus perpustakaan masjid. Dari dulu memang ayah senang sama buku. Berbagai judul buku ayah bawa ke rumah. Yang sangat membekas bagiku ialah ketika ayah memberi buku komik islami padaku, komik tentang Bilal bin Rabah, seorang budak yang pertama kali menerima ajaran yang dibawa Muhammad. Sangat membekas. Bilal yang ditindih batu besar karena mengikuti ajaran Islam, oleh majikannya. Lalu diselamatkan Allah dengan dibelinya Bilal oleh Abu Bakar As-Siddiq. Bilal ketika itu hanya mengucapkan ‘Ahad’ ‘..Ahad ‘ saja. Yang berarti Allah Maha Esa, ketika ditindih batu besar di padang pasir yang terik panas oleh majikannya. Aku dulu bandel, lalu dibelikanlah buku itu oleh ayah, lalu aku senang buku.
Mudah-mudahan cita-cita ayah ke tanah suci kesampean yah... aamiin..
Langganan:
Postingan (Atom)
